ITS ciptakan deteksi genangan untuk keselamatan penerbangan

Surabaya (ANTARA News) – Tim Peneliti dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menciptakan alat pendeteksi genangan air atau standing water level untuk dipasang di bandara demi keselamatan penerbangan.

“Keselamatan penerbangan itu tidak hanya bergantung pada faktor pesawat terbangnya saja, melainkan infrastruktur bandar udara juga berperan penting bagi keselamatan penerbangan,” ujar peneliti ITS Dr Melania Suweni Muntini, MT, kepada wartawan di Surabaya, Rabu.

Dia mengungkapkan selama ini di tiap bandara di Indonesia hanya terpasang alat pendeteksi angin untuk memantau kecepatan angin demi keselamatan penerbangan.

“Pendeteksi angin yang sudah banyak terpasang di berbagai bandara pun sebenarnya masih perlu dikembangkan lagi. Karena belum mendeteksi kecepatan angin yang datang dari arah samping,” ujar pakar infrastruktur penerbangan ITS itu.

“Selama ini belum ada satupun bandara di Indonesia yang memiliki alat pendeteksi genangan air,” katanya.

Melania bersama tim peneliti ITS melakukan penelitian sejak tahun lalu, di antaranya telah melakukan berbagai uji coba di bandara perintis Sumenep, Madura, Jawa Timur.

“Kami pilih bandara perintis di Sumenep untuk melakukan uji coba karena frekuensi penerbangannya masih terbilang sepi. Sebenarnya kami ingin melakukan uji coba di bandara besar, seperti Juanda, tapi frekuensi penerbangannya terlalu padat untuk dijadikan tempat penelitian,” ucapnya.

Dia menekankan alat pendeteksi genangan air wajib dipasang di seluruh bandara demi keselamatan penumpang.

“Genangan air yang aman untuk keselamatan penerbangan syaratnya minimal 3 milimeter dari keseluruhan luas bandar udara. Itu harus ada alat yang dapat mendeteksinya. Kalau tidak, pesawat yang mendarat atau melakukan lepas landas bisa tergelincir,” tuturnya.

Melania menyatakan penelitiannya telah rampung. Alat deteksi genangan air untuk dipasang demi keselamatan penerbangan di bandara kini tinggal menunggu sertifikasi.

Baca juga: ITS luncurkan Pusat Unggulan Industri Kreatif
Baca juga: Tiga kendaraan inovatif ITS jelajahi Indonesia

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Dosen UNS lakukan penelitian minimalisasi preeklampsia

Solo (ANTARA News) – Salah satu dosen Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Sri Sulistyowati melakukan penelitian untuk meminimalisasi kasus preeklampsia yang berdampak pada kematian ibu dan bayi.

“Saya telah melakukan penelitian pada tikus bunting dengan mengambil HLA-G (histocompability antigen, red) yang terbukti terjadi preeklampsia dan disebabkan oleh disfungsi organ endotel,” katanya di Solo, Sabtu.

Ia mengatakan dari penelitian yang dilakukan, disimpulkan bahwa disfungsi endotel yang terjadi pada hewan sesuai dengan kondisi ibu hamil preeklampsia, yaitu pada sel trofoblas.

“Melalui penelitian ini, model disfungsi endotel sebagai model preeklampsia direkomendasikan menjadi masukan bagi peneliti untuk menemukan hal yang berkaitan dengan preeklampsia. Tujuannya untuk mengetahui penyebab maupun terapi sebagai upaya menurunkan angka kematian ibu yang disebabkan preeklampsia,” katanya.

Menurut dia, hingga saat ini preeklampsia masih merupakan penyumbang utama kesakitan dan kematian pada ibu maupun janin.

Ia mengatakan di RSUD dr Moewardi Surakarta angka kematian ibu hamil pada tahun 2012 yang disebabkan oleh preeklampsia berjumlah 19 orang dari 30 ibu hamil yang meninggal. Sedangkan pada tahun 2013 berjumlah 12 orang dari 21 ibu hamil yang meninggal.

Menurut dia, faktor risiko terjadinya preeklampsia, di antaranya hipertensi kronis, diabetes mellitus, penyakit ginjal, obesitas, dan kondisi hiperkoagulitas.

Ia mengatakan hingga saat ini metode penelitian yang dilakukannya mengenai preeklampsia banyak digunakan para pakar kesehatan di sejumlah universitas.

Adapun, penyakit preeklampsia yaitu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan tanda kerusakan organ tubuh, misalnya kerusakan ginjal.

Preeklampsia juga dikenal dengan nama toksemia atau hipertensi yang diinduksi kehamilan.

Sementara itu, karena penelitiannya tersebut Sri Sulistyowati akan dikukuhkan sebagai Guru Besar UNS ke-196 pada Selasa (11/12).

Selain Sri, pada waktu yang sama UNS juga akan mengukuhkan Endang Sutisna Sulaeman sebagai Guru Besar UNS ke-195.

Endang yang merupakan Guru Besar di Bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat akan menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul Membumikan Keadilan, Pemberdayaan, dan Promosi Kesehatan.

Baca juga: Artikel – Vegetarisme dan misteri kematian Kartini

Pewarta:
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2018

AOT, teknologi tercanggih atasi disorientasi arah

Jakarta (ANTARA News) – Salah satu gangguan yang kerap pilot alami saat penerbangan adalah disorientasi arah dan inilah penyebab tersering kecelakaan pesawat terjadi, menurut spesialis kedokteran penerbangan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Penerbangan Indonesia (Perdospi), Dr.dr. Wawan Mulyawan, SpBS (K), SpKP. 

Untuk mengatasi masalah disorientasi, saat ini terdapat teknologi tercanggih yang bisa pilot manfaatkan, yakni perlengkapan Advance Orientation Trainer (AOT). Alat ini berfungsi untuk melatih penerbang dalam mengantisipasi kondisi kejadian luar biasa yang dialami saat terbang. 

“AOT sama dengan basic hanya dia advanced tetapi ada tambahan situasi, misalnya saat cuaca buruk. Pilot bisa waspada hal-hal semacam itu,” ujar Kepala Lakespra Saryanto, Marsekal Pertama TNI dr Krismono Irwanto, MH Kes di Jakarta, Rabu. 

Sejumlah kondisi darutat yang umum dialami pilot antara lain gangguan penglihatan, gangguan pada reseptornya dan pada vestibularnya. 

“Melatih orang yang dalam keadaan tertentu kan gelap dia mengalami disorientasi. Kalau dia mengalami itu dia harus percaya instrumen. Kadang dia takut,” tutur Krismono. 
  Perlengkapan Advance Orientation Trainer (AOT) di Lakespra Saryanto, Jakarta, Rabu (12/12/2018) (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)   Tampilan luar perlengkapan Advance Orientation Trainer (AOT) di Lakespra Saryanto, Jakarta, Rabu (12/12/2018) (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)
Dalam kesempatan itu, Kepala seksi pendidikan, pelatihan dan pengembangan  Lakespra Saryanto, Wardaya mengatakan, hampir tidak ada pilot yang kebal pada disorientasi arah.

Dia wajib terus mengasah kemampuan dalam orientasi arah dan ketinggian sehingga tidak hanya sepenuhnya mengandalkan pada peralatan apabila terjadi hal darurat.

“Tidak ada pilot yang kebal disorientasi. Di atas ketinggian 5000 km dpl, awan gelap. Disorientasi itu bisa visual (pandangan),  vestibular (telinga) dan reseptor. Kalau seorang pilot mau landing terlihat run away kecil itu disorientasi visual,” kata dia. 

AOT satu-satunya di Indonesia tersedia di  Lakespra Saryanto. Alat ini baru didatangkan dari Austria pada awal 2017 lalu. Tak cuma pilot berlatar belakang militer, pilot sipil juga bisa memanfaatkan alat ini untuk berlatih. 

Baca juga: Gangguan tubuh yang harus diwaspadai saat naik pesawat

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Google buat proyek Thai AI untuk atasi diabetes

Jakarta (ANTARA News) – Google mengumumkan program kecerdasan buatan (AI) di Thailand yang akan digunakan untuk memindai penyakit mata akibat diabetes yang dapat menyebabkan kebutaan permanen.

“Sebagai bagian dari masyarakat, kami punya kewajiban menggunakan AI di hal apa pun yang memungkinkan,” kata Wakil Dikrektur Urusan Global Google, Kent Walker, dikutip dari laman Reuters.

Google pada acara tersebut juga menyebutkan manfaat lain proyek AI ini, antara lain untuk penangkapan ikan ilegal di Indonesia. 

Programn di Thailand ini bekerja sama dengan rumah sakit milik negara Rajavithi Hospital, berupa studi bersama agar AI dapat memindai dengan kurasi 95 persen dalam mendeteksi penyakit, dibandingkan dengan 74 persen jika dilakukan oleh dokter mata atau ahli optik.

AI akan menganalisis hasil pemindaian pasien untuk menilai apakah orang tersebut berisiko kehilangan penglihatan sehingga pasien dapat diberikan perawatan pencegahan.

Pemerintah Thailand sudah berkamapnye mengenai hidup sehat agar tidak terkena diabetes. Pemindaian mata diabetes menjadi salah satu indikator kesehatan mereka sejak 2015.

Thailand sebagai salah satu produsen gula dunia, memiliki tingkat konsumsi gula yang tinggi diantara 69 juta penduduknya. 

Mereka hanya memiliki 1.400 dokter mata untuk 5 juta pasien diabates, kebanyakan berisiko kehilangan penglihatan, menurut Asisten Direktur Ravajithi Hospital, Paisan Ruamviboonsuk.

Program Google ini menargetkan memindai 60 persen masyarakat dalam skala nasional, mengikuti program pemerintah.

Google pada Oktober lalu menyatakan akan mengalokasikan dana 25 juta secara global tahun depan untuk program AI dalam bidang kemanusiaan dan lingkungan.

Baca juga: Google gelontorkan 25 juta dolar dana hibah AI

Baca juga: AI DeepMind dari Google mampu kenali penyakit mata

Baca juga: Google kembangkan AI suara mirip manusia

Penerjemah: Natisha Andarningtyas
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Alat penurun suhu ban UMM raih medali di Korea

Malang (ANTARA News) – Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Haryo Widya Damawan meraih medali perunggu di ajang Seoul International Invention Fair (SIIF) 2018 di Seoul, Korea Selatan berkat temuannya berupa alat penurun temperatur ban mobil pengangkut barang yang diberi nama Tyrender.

“Saya senang dan bahagia bisa mendapat apresiasi di ajang internasional ini. Alhamdulillah bisa membanggakan orang tua dan kampus,” ujar Haryo di Malang, Jawa Timur, Kamis.

Haryo mengikuti SIIF pada 6-9 Desember lalu di Seoul. Hasil karyanya harus bersaing dengan 600 lebih inovasi baru dari sekitar 30 negara yang mengikuti ajang itu. Inovasi Haryo dilirik oleh hampir 40 ribuan pasang mata yang terdiri dari peserta, pembeli, dan investor di seluruh dunia.

Selain mendapatkan medali perunggu, inovasi mahasiswa Teknik Mesin semester 5 ini juga mendapatkan Special Award dari  Association of Polish Inventors and Rationalizers.

Haryo menerangkan alat Tyrender buatannya merupakan sebuah alat penurun temperatur berlebih atas hasil gesekan pada ban dengan permukaan jalan. “Fungsi finalnya, untuk memperpanjang usia ban,” tambahnya.

Lebih lanjut, mahasiswa kelahiran Makassar ini menguraikan ada beberapa kondisi yang membuat ban mengalami pengikisan, yakni kondisi permukaan jalan, kecepatan kendaraan dan beban yang diterima.

Selain itu, suhu berlebih yang terjadi akibat gesekan yang dialami ban juga menjadi salah satu faktor pemicu cepatnya ban mengalami penipisan.

Alat yang ia desain ini akan meminimalisasi hal tersebut. Terdiri dari rangkaian tangki air, controller, pompa dan nozzle yang didesain sedemikian rupa, Tyrender secara otomatis menyemprotkan air saat temperatur ban melebihi ambang batas. Dengan demikian, usia ban dapat tahan lebih lama.

Temuannya ini diklaim Haryo belum pernah dibuat inovator lain di kategori mechanical controller yang diikutinya.

Setelah suhu kembali ke batas angka normal, sambung Haryo, alat ini akan berhenti menyemprotkan air secara otomatis. Haryo mencontohkan, jika pada awal berjalan ban akan memiliki temperatur 30 derajat, lalu saat berjalan naik menjadi 35 derajat, dan saat melaju kencang menjadi 40 derajat. Alat ini akan secara otomatis mengembalikan suhu ban ke 35 derajat.

Tahun 2017, di ajang yang sama, Seoul International Invention Fair (SIIF), kontingen Indonesia berhasil membawa pulang 3 medali emas, 5 medali perak, dan 6 medali perunggu.

Pada 2018 ini, Indonesia mengirim 41 produk dan mendapat 1 perolehan grand prize, 10 emas, 6 perak dan 20 perunggu. Haryo turut membukukan daftar prestasi gemilang bagi UMM, juga Indonesia di kancah internasional.

 Rektor UMM, Dr Fauzan menyebut, raihan Haryo sebagai bukti komitmen UMM mencerdaskan generasi terbaik bangsa melalui teknologi dan ilmu pengetahuan. “Inilah bentuk dari implementasi tagline UMM, `Dari Muhammadiyah untuk Bangsa`, yakni sebagai bukti kontribusi UMM untuk kemajuan umat di masa mendatang,” kata Fauzan.

Baca juga: Indonesia raih medali olimpiade sains internasional di Botswana
Baca juga: Pelajar Indonesia raih tujuh medali Olimpiade Sains di Prancis
 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Puri Robotics distribusikan robot layanan di Indonesia

Jakarta (ANTARA News) – Pusat Robot Indonesia (Puri) Robotics meramaikan industri teknologi di Indonesia sebagai distributor robot layanan atau services robot bagi berbagai bidang usaha maupun rumah tangga yang membutuhkan bantuan pelayanan.

“Puri Robotics ini khusus untuk robot services. Kami ingin menjadi pusat robot,” kata Presiden Direktur Puri Robotics, Jully Tjindrawan, saat ditemui di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Sabtu.

Perusahaan ini baru menghadirkan robot buatan China dan Jepang selama dua minggu belakangan ini, dengan target penggunaan di rumah sakit, restoran maupun di rumah.

Jully belum bisa menyebutkan angka, namun, robot-robot itu selain dijual juga dapat dipakai dengan sistem sewa, antara lain per hari dan per delapan jam. 

Robot layanan yang mereka sediakan antara lain tipe Snow yang dapat menjadi resepsionis di rumah sakit, hotel, dan sekolah, kemudian robot Amy yang dapat menjadi pelayan di restoran, hotel, bar, dan kafe.

Puri Robotics juga menyediakan robot Alice yang dilengkapi teknologi kecerdasan buatan dan pengenal wajah sehingga ketika digunakan di hotel dan restoran, misalnya, ia dapat menyapa orang yang wajahnya telah direkam.

Jully telah berkecimpung di dunia robotik Indonesia sekitar 14 tahun, selain mendistribusikan robot dia juga merencanakan Puri Robotics akan memiliki Rumah Robot Indonesia di mal Season City tahun depan.

Rumah Robot Indonesia dirancang untuk menjadi taman bermain sekaligus tempat untuk mempelajari sains dan robotikam juga teknologi augmented reality (AR) dan virtual reality (VR).

Selain tempat belajar robot, Jully mengaku berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk kurikulum robot di sekolah.

Baca juga: Kominfo dorong SDM Indonesia kuasai bidang robotik
Baca juga: Universal Robots dorong Indonesia jadi pusat manufaktur Asia

 

Pewarta: Natisha Andarningtyas
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Lomba Kapal Robot

Lomba Kapal Robot

Pelajar memeriksa kapal robot pemadam api tanpa awak (Fire Fighting Roboboat) rakitannya saat Automation Week 2018 di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (15/12/2018). Lomba yang diikuti 76 tim pelajar SMP dan SMA sederajat dari berbagai daerah itu bertujuan menumbuhkan kreativitas serta mengenalkan teknologi otomasi perkapalan kepada para pelajar. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/hp.

Facebook kembangkan mata uang kripto untuk transfer lewat WhatsApp?

Jakarta (ANTARA News) – Facebook dikabarkan sedang mengembangkan mata uang kripto agar mengirim uang lewat aplikasi WhatsApp lebih mudah.

Kabar ini mencuat setelah laporan yang dimuat Bloomberg menyatakan bahwa Facebook akan membuat mata uang kripto untuk dipakai di India agar warga negara tersebut yang bekerja di luar negeri dapat mengirim uang untuk keluarga mereka.

Kabar Facebook sedang mengembangkan mata uang kripto bergulir sejak Mei lalu, pertama kali dilaporkan oleh laman Cheddar. Saat itu, salah seorang pimpinan Facebook Messenger, David Marcus, ditunjuk untuk memimpin divisi baru tentang blockchain.

Divisi tersebut, seperti diberitakan The Verge, bertugas mencari cara baru untuk mengembangkan blockchain dalam Facebook, dimulai dari nol.

Laporan Bloomberg memuat gambaran bagaimana Facebook akan menerapkan blockchain, termasuk apa tujuan mereka mengembangkan teknologi tersebut.

Facebook dikabarkan sedang mengembangkan “stablecoin”, mata uang ini akan berbasis pada mata uang Amerika Serikat untuk mengurangi ketidakstabilan yang ada di mata uang kripto.

Diperkirakan masih lama Facebook akan mengeluarkan koin ini.
 

Pewarta: Natisha Andarningtyas
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Mahasiswa ITS ubah cangkang keong jadi beton

Surabaya (ANTARA News) – Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menangkap peluang tingginya permintaan di masyarakat dengan berinovasi membuat abu cangkang keong sawah dan serbuk kapur alami menjadi beton.

Mahasiswa ITS Mohamad Ilham Fahmi ditemui bersama ketiga rekan mahasiswanya Ifon Robi Kurniadi, Ilham Pradana Kusuma dan Aditya Rachmad Andriyono di kampus ITS, Surabaya, Rabu, mengatakan inovasi tersebut didasarkan pada material lokal Indonesia yang masih melimpah, namun tidak pernah dimanfaatkan dengan baik.

Cangkang keong sawah, kata Ilham, juga mengandung kadar kalsium karbonat (CaCO3) yang sangat tinggi, sehingga dapat bereaksi sangat baik dengan semen sebagai bahan utama pembuatan beton.

“Kami memanfaatkan cangkang keong sawah, karena selama ini yang dimanfaatkan hanya dagingnya saja, sedangkan cangkangnya terbuang sia-sia,” kata Ilham.

Ketua tim Pembuatan Beton Cangkang Keong, Ifon Robi Kurniadi mengatakan batuan kapur alami yang dimiliki Indonesia saat ini masih melimpah, khususnya di Provinsi Jawa Timur.

Namun, katanya, masyarakat daerah itu masih belum memanfaatkan secara maksimal. Padahal manfaat kapur alami untuk berbagai produksi bahan sangatlah besar, terutama untuk campuran beton, sebab kapur alami memiliki hasil yang sangat baik dalam bereaksi dengan semen pada campuran beton.

Ifon menjelaskan produksi semen pozzoland composite cement (PPC) saat ini mencapai 2,8 miliar ton per tahun untuk produksi bahan baku beton, shingga menyumbang dua hingga enam persen dari keseluruhan emisi CO2 oleh manusia dan diprediksi akan terus meningkat. Dalam pembuatan beton, material pozzolanic menjadi campuran dari semen PPC.

Untuk mengurangi penggunaan PPC itulah, dia dan tiga rekannya yang tergabung di Tim PERFE-CT mengganti material pozzolanic dan menambahkan komposisinya menggunakan abu cangkang keong dan serbuk kapur alami.

“Selain mampu mengganti material pozzolanic, penggunaan material lokal ini juga dapat membantu perekonomian serta meminimalisir limbah yang tak ternilai,” tuturnya.

Berkat ide inovasi yang murni dan asli tersebut, konsep yang di bawah bimbingan Ridho Bayuaji ST MT PhD ini mendapat tiga penghargaan sekaligus di ajang Kaohsiung International Invention and Design Expo (KIDE) 2018 di Taiwan, awal Desember lalu, antara lain Gold Medal 2018 Kaohsiung International Invention & Design Expo.

Selain itu Award of Excellence dari Toronto Canada International Society of Innovation & Advanced Skill, dan Excellent Gold Medal dari Highly Innovative Unique Foundation Kingdom of Saudi Arabia.

Baca juga: Inovasi butuh keberpihakan regulasi

Baca juga: Desa di Trenggalek didorong kembangkan Inovasi lokal

Baca juga: Pemerintah ingin daerah bangun kekuatan ekonomi berbasis inovasi

Pewarta:
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Jaket keselamatan dari Pelni untuk Pelra

(Antara)-Sebanyak 1.500 life jacket atau jaket keselamatan, disediakan oleh Pelni untuk para pelaku pelayaran rakyat, atau pelra yang ada di 6 kota di Indonesia. Salah satu kota penerima jaket keselamatan ini, adalah Kota Balikpapan di Kalimantan Timur, dengan jumlah sebanyak 200 buah jaket.

BPPT luncurkan laboratorium panel surya

Petugas melakukan uji coba kekuatan Panel Surya seusai peresmian Laboratorium Uji Modul Photovoltaic (Panel Surya) di Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (9/1/2019). Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) meresmikan Lab Uji Modul Panel Surya untuk menjamin kualitas modul surya sebagai komponen utama PLTS serta dapat dijadikan laboratorium acuan nasional bagi industri modul surya. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/foc.

Satelit Lapan A-1 sudah bertahan 12 tahun di orbitnya

Jakarta  (ANTARA News) – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mengatakan salah satu penyebab satelit Lapan-A1/Lapan-TUBSat tetap bertahan sejak mengudara pada 7 Januari 2007 hingga menginjak usia yang ke-12 pada 2019 karena gangguan badai matahari yang mininum di orbitnya.
 
“Saat diluncurkan pada 2007 aktivitas matahari sedang minimum, sehingga gangguan badai matahari minimum,” kata Kepala Lapan Thomas Djamaluddin saat dihubungi Antara dari Jakarta, Jumat.

Thomas menuturkan umur satelit ditentukan dua hal pokok, yaitu keberadaan di orbitnya dan ketahanan instrumennya. 

“Satelit Lapan-A1 pada ketinggian 630 kilometer itu bisa bertahan di orbit  sekitar puluhan tahun. Padahal daya tahan instrumennya rata-rata hanya 2-3 tahun untuk kelas satelit mikro,” tuturnya.

Sementara itu, instrumen kameranya, lanjut dia, ternyata bertahan sampai enam tahun, setelah itu kualitasnya menurun.  Sedangkan beberapa instrumen lainnya ada yang masih beroperasi sampai saat ini dengan mengirimkan sinyal. 

Thomas menjelaskan badai matahari adalah semburan partikel berenergi tinggi terutama proton dan elektron dari matahari. Instrumen elektronik satelit bisa terganggu oleh semburan partikel energi tinggi tersebut.

Ketika instrumen elektronika terganggu, fungsi satelit terganggu sehingga satelit tidak bisa beroperasi lagi, baik sebagian fungsinya maupun seluruhnya. 

“Satelit yang tidak bisa beroperasi lagi atau mati menjadi sampah antariksa,” tuturnya.

Pada saat puncak aktivitas matahari,  badai matahari sering terjadi dan bisa mengurangi daya tahan satelit sehingga satelit cepat mati.

Satelit Lapan-A1/Lapan-TUBSat adalah hasil kerja sama Lapan dengan Technische Universität Berlin, Jerman. Pembuatan dan peluncuran Satelit Lapan-A1 merupakan awal penguasaan teknologi satelit LAPAN. 

Setelah berhasil membuat satelit di Jerman, tim kembali ke Lapan, lalu mengembangkan fasilitas pembuatan satelit di Pusat Teknologi Satelit Lapan Rancabungur, Bogor. Kemudian membuat generasi berikutnya, yakni satelit Lapan-A2 dan Lapan-A3 yang saat ini sudah berada di orbit.

Sebagai satelit pengamatan, satelit itu dapat bermanfaat untuk melakukan pemantauan langsung terhadap sejumlah fenomena seperti kebakaran hutan, gunung meletus, tanah longsor dan kecelakaan kapal maupun pesawat.

Namun, Thomas mengatakan satelit LAPAN-A1 saat ini lebih berfungsi sebagai laboratorium uji kesehatan satelit, sedangkan fungsi pemotretan situasi di permukaan bumi sudah diambil alih oleh satelit LAPAN-A2 dan LAPAN-A3.

Satelit LAPAN-TUBSat yang berbentuk kotak dengan berat 57 kilogram dan dimensi 45 x 45 x 27 sentimeter itu membawa sebuah kamera beresolusi tinggi dengan daya pisah 5 meter dan lebar sapuan 3,5 kilometer di permukaan bumi pada ketinggian orbit 630 kilometer serta sebuah kamera resolusi rendah berdaya pisah 200 meter dan lebar sapuan 81 kilometer. 

Baca juga: Lapan kembangkan satelit operasional mikro
Baca juga: Wapres Kalla saksikan peluncuran satelit LAPAN 
 

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Cerahkan kulit, mahasiswa UNY olah daun petai cina jadi sabun

Yogyakarta (ANTARA News) – Kelompok mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengolah daun petai cina menjadi sabun herbal yang berkhasiat mencerahkan dan menghaluskan kulit.

“Gagasan membuat sabun herbal itu karena dalam daun petai cina mengandung energi 128 kilokalori (kkal), protein 12 gram (gr), lemak 6,5 gr, karbohidrat 12,4 gr, kalsium 500 mg, fosfor 100 miligram (mg),  zat besi 3 mg, vitamin A 17.800 IU, vitamin B1 0,04 mg, dan vitamin C 64 mg,” kata koordinator kelompok mahasiswa UNY Fatwaning Raras Pawestri di Yogyakarta, Minggu.

Menurut dia, pembuatan sabun herbal itu bertujuan agar produk kecantikan berupa kosmetik badan yang tidak hanya cepat dalam mencerahkan, mengurangi kekusaman dan menghaluskan kulit, tetapi juga menyadarkan masyarakat terhadap keamanan produk yang akan dikonsumsi oleh masyarakat itu sendiri.

“Sabun herbal berbahan daun petai cina itu kami beri nama Atecin. Bahan yang dibutuhkan adalah natrium hidroksida, air suling, daun petai cina untuk disaring airnya, pewarna makanan alami, minyak kelapa, minyak sawit, minyak zaitun, dan minyak esensial,” katanya.

Ia mengatakan alat yang dibutuhkan adalah kompor, oven, sendok blender, gelas plastik ukuran 8 ons, termometer digital, dan cetakan sabun. Cara membuatnya adalah pertama kali dibuat campuran natrium hidroksida dengan air, kemudian buat campuran minyak kelapa, minyak sawit dan minyak zaitun sesuai ukuran yang sudah ditetapkan.

Kemudian racikan didiamkan. Panaskan minyak dalam oven atau kompor, kemudian campurkan racikan pertama dan kedua dengan spatula karet sebagai bantuan.

Campuran tersebut kemudian diaduk dengan menggunakan tongkat blender hingga mengental kira-kira waktunya tiga menit, jika masih ada gelembung berarti percampuran belum sempurna sehingga diaduk lagi sampai sempurna.

Setelah tercampur dengan sempurna kemudian tambahkan pewangi, minyak esensial, air daun petai cina dan pewarna makanan untuk mendapatkan warna yang menarik.

“Cetak dalam cetakan dan tunggu hingga mengeras. Setelah mengeras keluarkan dari cetakan dan dikemas dengan rapi untuk menarik minat pembeli,” katanya.

Menurut dia, tanaman petai cina cukup populer di kalangan masyarakat. Masyarakat Jawa menyebutnya sebagai lamtoro dan sering memanfaatkan pohonnya sebagai pencegah erosi, peneduh, sumber kayu bakar, daunnya untuk pakan ternak, dan buahnya dibuat makanan botok lamtoro.

Anggota kelompok mahasiswa UNY itu antara lain Merita Dewi Kadarwati, Nurhayati Wahyu Kurniasari, Novita Permata Sari dan Aprilia Ristianasari.

Baca juga: UMY resmikan laboratorium penelitian kedokteran dan terapi molekuler

Baca juga: UNY kembangkan gel daun kupu-kupu penurun demam
 

Pewarta:
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Penjualan Honda Walking Assist di AS tinggal selangkah lagi

Jakarta (ANTARA News) –  Honda mengumumkan bahwa penjualan perangkat Honda Walking Assist Device (HWAD) di Amerika Serikat tinggal selangkah lagi, usai memperoleh pre-market notifications dari lembaga US Food and Drug Administration (FDA), pada (10/1).

Lisensi tersebut merupakan persyaratan untuk pendistribusian alat-alat medis di Amerika Serikat, meskipun saat ini Honda belum mengumumkan rencana aktual untuk penjualan alat bantu jalan tersebut. 

Honda Walking Assist Device merupakan perangkat robotik yang berfungsi membantu setiap individu yang masih memiliki kemampuan untuk berjalan, namun memiliki keterbatasan karena disebabkan beberapa hal, di antaranya penyakit stroke. 

Perangkat HWAD dipakaikan secara melingkar di pinggang dan betis penggunanya, untuk mendukung pola jalan kaki yang lebih simetris dan efisien sehingga pengguna dapat berjalan kaki dengan lebih cepat dan lebih jauh. 

Perangkat HWAD telah terbukti mendukung penyembuhan pada neuromuscular, dengan pengawasan dan pelatihan dari ahli kesehatan.

“Honda R&D memiliki tujuan untuk menciptakan teknologi yang memudahkan kehidupan manusia, dan dengan diterimanya lisensi dari FDA merupakan salah satu pencapaian bagi kami,” ujar President Honda R&D Amerika Frank Paluch, dalam keterangan tertulis yang diterima Antara, Senin.

“Kedepannya, kami akan terus menciptakan beragam produk yang dapat membantu mobilitas lebih banyak orang.”  Ujar Paluch menambahkan.

Perangkat Honda Walking Assist Device bekerja dengan mendeteksi posisi sendi pinggul saat berjalan, dengan sensor yang terletak di sisi kiri dan kanan. Alat ini memandu pergerakan anggota tubuh bagian bawah dengan menciptakan dorongan pada bagian kaki. 

Perangkat HWAD dapat mendeteksi tingkat keseimbangan antara kaki kiri dan kaki kanan, gerakan pada pinggul, kecepatan berjalan dan paramater lainnya, serta menggabungkan seluruh hasil tersebut dalam pengukuran historikal sehingga pola perkembangan pengguna dapat dianalisa menggunakan komputer.

Honda Walking Assist Device pertama kali diuji pada tahun 2014 di Shirley Ryan AbilityLab, yang sebelumnya merupakan Institusi Rehabilitasi Chicago. Setelah melalui beberapa percobaan dan penelitian yang berkelanjutan, akhirnya Honda menerima lisensi FDA. 

Pengujian yang telah dilakukan membuktikan keamanan dan efektivitas dari perangkat HWAD terhadap rehabilitasi pasien pasca-stroke, yang teruji membantu proses penyembuhan dibandingkan praktek terapi standar.

“Alat ini terbukti mampu mendorong perkembangan pasien menjadi lebih cepat, baik dari lebar langkah kaki, kecepatan berjalan, keseimbangan saat berjalan, dan lainnya. Honda Walking Assist Device memberikan banyak manfaat dan kesempatan untuk berkembang lebih baik.” ucap peneliti di Shirley Ryan AbilityLab, Dr. Arun Jayaraman, PT, PhD

Pada November 2015, Honda mulai menyewakan Walking Assist Device untuk klinik rehabilitasi di Jepang, dan saat ini alat tersebut digunakan di 250 fasilitas kesehatan di Jepang. 

Sebelumnya, Honda juga telah memperoleh sertifikasi di Eropa (CE) pada Januari 2018, yang menjadi persyaratan dalam mendistribusikan dan menjual alat medis di negara-negara Eropa.

Riset mengenai Honda Walking Assist Device dimulai pada 1999 dan telah berkontribusi terhadap penelitian atas kemampuan berjalan manusia, yang sekaligus mendukung terciptanya robot ASIMO. 

Honda bekerjasama dengan berbagai fasilitas kesehatan dan institusi riset untuk mengumpulkan banyak data yang relevan, serta menghabiskan waktu lebih dari satu tahun saat mengajukan izin lisensi ke FDA yang memiliki kewenangan dalam regulasi alat-alat medis.

Baca juga: Honda WAD didesain untuk terapi berjalan

Baca juga: Honda ciptakan alat bantu jalan penderita stroke

Pewarta: Fathur Rochman
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BMKG prakirakan “supermoon” picu rob

Semarang  (ANTARA News) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan fenomena Supermoon yang disertai dengan Bulan purnama akan memicu limpasan air laut yang masuk ke darat atau rob di wilayah pesisir Kota Semarang.

 “Supermoon` yang disertai Bulan purnama akan memengaruhi pasang maksimal air laut,” kata Kepala Seksi  Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas Semarang, Slamet Wiyono, di Semarang, Jumat.

 Fenomena pasang air laut itu, kata dia, diprakirakan terjadi pada 19 hingga 22 Januari 2019.

 Menurut dia, kawasan pesisir Kota Semarang yang biasa dilanda rob diperkirakan akan dilanda genangan yang lebih tinggi.

 Prakiraan ketinggian maksimal naiknya permukaan air laut itu, kata dia, akan mencapai satu meter.

 “Ketinggian maksimal diperkirakan terjadi pada 21 Januari 2019,” kata dia.

 Peningkatan permukaan air laut, lanjut dia, diprakirakan terjadi mulai malam hingga dini hari dengan durasi mencapai enam jam.

 Secara umum, menurut dia, fenomena “Supermoon” yang terjadi akibat grativasi Bulan saat jaraknya paling dekat dari Bumi itu akan melanda kawasan pesisir utara dan selatan Provinsi Jawa Tengah.

 Oleh karena itu, kata dia, BMKG mengimbau masyarakat di wilayah pesisir, petani garam, dan kegiatan bongkar muat di pelabuhan untuk mewaspadai terjadinya pasang air laut itu.

Baca juga: BBMKG siapkan teropong saksikan “Supermoon”
 Baca juga: “Super blue blood moon” baru muncul lagi 2028 dan 2037
 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Peluncuran becak listrik UGM

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan (kiri) bersama Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Panut Mulyono (kanan depan) mencoba becak listrik saat diluncurkan di Balairung UGM, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (18/1/2019). UGM bekerja sama dengan PT PLN mengembangkan 15 prototype becak listrik dengan penggerak motor listrik 1500 watt 48 V dan diberikan kepada paguyuban pengemudi becak kawasan Bulak Sumur. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/foc.

Jejak DNA penyebaran leluhur manusia

Jakarta  (ANTARA News) – Makhluk berdiri tegak telah hidup dan menyebar di bumi lebih dari sejuta tahun lalu, mulanya mereka berjalan agak bungkuk dengan rahang bawah yang besar dan tonjolan tulang alis mata yang membuat bentuk wajahnya seperti kera.

Para evolusionis abad 19 menyebut mereka merupakan nenek moyang manusia yang saat ini menguasai bumi. Hasil rekonstruksi dan perbandingan anatomi fosil tulang-belulang yang ditemukan di sejumlah lokasi di  Eropa, Asia dan Afrika dijadikan dasar dari asumsi ini.

Misalnya sebagian tempurung tengkorak, gigi dan tulang paha atas yang ditemukan Eugene Dubois di Trinil, Ngawi pada 1890 dan dinamakan Pithecanthropus Erectus.

Sisa fosil dari zaman pleistosen tengah yang usianya diperkirakan sekitar 1,5 juta tahun itu menambah koleksi fosil manusia purba hasil perburuan para paleontolog evolusionis dalam mengungkap missing link yang mengaitkan garis keluarga kera ke homo sapiens, manusia modern yang hidup sekarang ini. 

Namun hampir 1,5 abad berlalu, temuan spesimen fosil dari berbagai lokasi tersebut masih juga belum mampu menjelaskan asumsi-asumsi teori evolusi Darwin tentang leluhur bersama homo sapiens dan para hominid, meskipun teori ini telah menjadi bagian penting dari bangunan biologi.

Di sisi lain, ilmu genetik kini dalam perkembangan pesat dan tampaknya justru menambah daftar pertanyaan kepada teori terdahulu tentang pohon evolusi yang menjadi diagram percabangan spesies makhluk hidup berdasarkan anatomi semata.

Uji genom

Sejak genom manusia selesai dipetakan satu dekade lalu, asal-usul dan jejak penyebaran manusia sudah bisa dilacak melalui gen. 

Dengan uji DNA (Asam Deoksribo Nukleat) menggunakan kromosom Y,  seorang pria zaman kini bisa melacak kakek moyangnya dari garis ayah, demikian juga dengan uji mitokondria DNA, seorang wanita bisa mencari tahu nenek moyangnya dari garis ibu.

 Di setiap inti sel manusia terdapat 23 kromosom berpasangan yang masing-masing strukturnya berupa pilinan benang berisi informasi genetik berisi lebih dari tiga miliar huruf DNA dalam bentuk kelompok fosfat, gula dan nitrogen basa.

 Manusia diperkirakan memiliki sekitar 30-35 ribu gen pembawa sifat per selnya yang terus diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melewati ribuan tahun tanpa banyak perubahan. 

Riset DNA yang dilakukan terhadap lebih dari seribu orang dari berbagai etnik menyimpulkan moyang manusia modern mengacu pada seorang laki-laki dan seorang perempuan (Adam dan Hawa) yang berasal dari satu titik di Afrika Timur, yang jika dirunut berusia hingga 100-200 ribu tahun. 

Benua Afrika menjadi tempat orang-orang pembawa gen paling tua, sedangkan orang-orang di luar Afrika seperti Eropa, Asia, Amerika, termasuk penduduk asli Australia dan Papua, hanya mengarah pada usia gen setua 50-70 ribu tahun lalu. 

Dari sana disimpulkan bahwa pada periode tersebut sejumlah kelompok moyang di Afrika Timur kemudian bermigrasi secara bertahap ke luar dari benua tersebut, melalui jembatan semenanjung Arabia dan menyebar ke seluruh dunia.

 Berdasarkan analisis terhadap ribuan sampel DNA yang dilakukan oleh tim pakar genetik yang dipimpin Spencer Wells, migrasi leluhur bersama (common ancestors) orang Eurasia (out of Africa) ini terbagi dalam sejumlah cabang.

Cabang pertama dalam peta penyebaran manusia, diketahui moyang dari Afrika timur itu menuju ke utara di Timur Tengah (45 ribu tahun lalu) menetap lama dan kemudian generasi-generasi berikutnya ada yang bermigrasi lagi ke Afrika Utara dan kemudian sebagian mereka ke Eropa Selatan. Proses migrasi ini terjadi bertahap dalam ribuan tahun.

Cabang lainnya ada yang menuju ke Asia Tengah 40 ribu tahun lalu, yang dari sana, keturunan berikutnya mulai merintis jalan ke utara. 

Mereka ini ada yang berbelok ke barat (35 ribu tahun lalu) bercampur dengan kelompok dari Timur Tengah menjadi leluhur orang-orang Eropa, ada yang ke barat-laut menuju Rusia dan berbelok menyebar di kawasan Skandinavia. 

Perintis Asia Tengah ini dalam atlas genetik kemudian menyebar ke Asia Selatan dan Indo-China lalu berbelok lagi ke utara menyebar di Asia Timur. 

Cabang lainnya menuju ke utara di Siberia dan menjadi orang-orang eskimo (15 ribu tahun lalu), sebagian ada yang menyeberang sampai ke Benua Amerika, menurunkan orang-orang Indian.

Jauh sebelum itu, pada 50 ribu tahun lalu ada pula kelompok orang-orang yang keluar dari Afrika, melewati pesisir selatan Yaman menuju selatan India, lalu ke arah timur-laut (Indo-China) dan berlanjut ke Asia Timur.

Cabang dari selatan India ini ada pula yang melintasi pesisir menuju Sumatera, Jawa dan masuk ke Benua Australia dan juga daratan Papua.

Cabang lainnya yang sempat menetap di Sumatera lantas menuju utara ke arah Laut China Selatan yang dahulu sebelum zaman es mencair masih merupakan daratan, dan Kalimantan yang saat itu juga masih menjadi satu dengan Pulau Sumatera dan Jawa.

Mereka diperkirakan berlanjut ke wilayah yang sekarang merupakan Kepulauan Filipina, ada pula yang menyebar hingga ke Kepulauan Jepang. 

Sebagian mereka ada pula yang berbelok ke daratan China bercampur dengan keturunan Asia Tengah serta ada yang ke utara menyeberang ke Amerika Utara menjadi orang-orang Indian. 

Sangat homogen

Penyebaran homo sapiens ke berbagai belahan dunia yang alurnya bagaikan benang kusut itu berlangsung secara bertahap dalam periode puluhan ribu tahun dengan hampir tanpa perubahan variasi genetik.

Tampaknya studi genetika belum bisa mengaitkan gen homo sapiens dengan gen hominid seperti digambarkan dalam pohon evolusi, apalagi pendahulu manusia ini usia gennya mencapai sejutaan tahun sebelum manusia (homo sapiens) pertama muncul.

Hasil riset Svante Paabo dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology soal adanya gen yang diturunkan oleh neandertal (yang muncul lebih dulu sekitar 500 ribu tahun lalu dan punah 30 ribu tahun lalu), sebesar 1,8 hingga 2,6 persen pada semua manusia di luar Afrika juga masih diperdebatkan.

Sejumlah pihak seperti Andrea Manica dari Universitas Cambridge menolak pernyataan adanya kemungkinan kawin-mawin di antara kedua spesies ini dan meyakinkan bahwa hal itu bisa jadi hanya bagian dari kesamaan genetik.

Pakar genom lainnya Tony Capra yang mencermati data variasi genetik dari 20 ribu orang Afrika mengatakan, gen neandertal yang diturunkan ke homo sapiens itu tidak unik, karena ternyata juga ditemukan di gen kuno leluhur Afrika, seperti di suku Yoruba, Esan dan Mende, namun sempat hilang ketika keturunan orang-orang kuno Afrika bermigrasi ke luar benua.

Penduduk Afrika memang memiliki lebih banyak variasi genetik dari satu suku ke suku yang lain dan menjadi tempat bersembunyi alel-alel (gen dengan sifat bervariasi) yang tidak bisa ditemukan pada orang-orang di luar Afrika, sementara gen manusia yang  hidup menyebar di luar Afrika sangat homogen.      

Namun demikian, secara genetik seluruh manusia yang ada di Bumi berasal dari leluhur yang sama dan sangatlah identik, di mana variasi genetik di antara tiap individu tidak lebih besar dari 0,1 persen.

Dengan demikian tidak seharusnya ada ras yang merasa lebih tinggi dari ras lainnya, misalnya ras kaukasoid merasa lebih tinggi dari ras negroid yang justru menjadi saudara tuanya, karena semua manusia sebenarnya berada dalam satu ras homo sapiens. 

Variasi genetik paling besar yang diketahui di antara manusia adalah di antara dua jenis kelamin berbeda, laki-laki dan perempuan, yakni sekitar 1-2 persen. Dengan perbedaan ini manusia bisa tetap bertahan dengan menghasilkan keturunan dan berkembang biak.*
 
Baca juga: Ada DNA Neanderthal di Tubuh Kita
Baca juga: Manusia dan kera punya akar budaya sama

 

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

UII Yogyakarta kembangkan listrik Hydrogen Fuel Cell

(Antara)-Universitas Islam Indonesia, UII Yogyakarta, mengembangkan pembangkit listrik hydrogen fuel cell. Sumber energi alternatif ini mampu menghasilkan listrik dua setengah kilowatt untuk menyuplai listrik di Gedung Fakultas Teknologi Industri dan sejumlah menara seluler.

Becak Listrik UGM, upaya memuliakan tukang becak

(Antara)-Becak masih menjadi kendaraan yang dipilih oleh sebagian masyarakat. Namun, kini becak harus bersaing dengan berbagai jenis moda transportasi lain, yang menyebabkan pengayuh becak harus kuat dan bertahan, agar bisa bersaing. Kondisi ini mendorong fakultas teknik Universitas Gajah Mada, melakukan konversi becak dengan penggerak listrik.

Ada ruang simulasi mengemudi di UII

(Antara)-Prihatin dengan masih tingginya angka kecelakaan lalu lintas, akibat kesalahan manusia, Universitas Islam Indonesia, UII Yogyakarta, membuat ruang driving simulator di komplek laboratorium teknologi industri. Ruang itu, digunakan para dosen di kampus tersebut, untuk meneliti perilaku pengemudi, tanpa risiko kecelakaan, seperti jika harus dipraktekkan langsung di jalanan.