Robot Gundam setinggi 18 meter siap dipamerkan pada 2020 di Jepang

Berbeda dari robot serupa yang pernah ada, melalui proyek Gundam Global Challenge (GGC) mereka menciptakan robot Gundam setinggi gedung enam tingkat itu bisa bergerak melalui implementasi teknologi machine learning dan artificial intelligence.

Jakarta (ANTARA) – Para ilmuwan di Jepang kini berusaha menjembati fiksi ilmiah dan sains dan robot Gundam setinggi 18 meter adalah salah satu contohnya.

Berbeda dari robot serupa yang pernah ada, melalui proyek Gundam Global Challenge (GGC) mereka menciptakan robot Gundam setinggi gedung enam tingkat itu bisa bergerak melalui implementasi teknologi machine learning dan artificial intelligence.

Salah satu pimpinan proyek, yang merupakan ilmuwan asal Indonesia, Prof Pitoyo Hartono mengakui bukan perkara mudah merealisasikan robot ini.

“18 meter itu lumayan besar. Karena ini robot dia punya volume, proporsinya seperti manusia. Kalau tingginya 10 kali lipat, lebarnya juga 10 kali lipat, ketebalannya juga 10 kali lipat. Jadi volumenya 1.000 kali manusia,” ujar dia dalam acara yang digelar Nodeflux bertajuk “Mechamorphosis: AI Brings Gundam to Life”’ di Jakarta, Senin malam.

Pitoyo dan tim harus membuat robot itu bergerak dan hal ini mempertimbangkan sejumlah aspek, salah satunya momen inersia atau kekuatan sebuah objek mengubah rotasinya.

“Dia harus bergerak. Moment of innertia atau cara mengukur kesulitan bergerak dan itu berbanding pangkat dua dengan panjang yang akan kita gerakkan. Jadi, kalau panjangnya 10 kali, moment of innertianya akan 100,” papar dia yang merupakan ahli AI sekaligus profesor di School of Engineering Chukyo University, Jepang.

“Dikalikan volumenya, kesulitan Gundam ini akan bergerak 10.000 kali manusia. Tidak ada robot selama ini yang mempunyai kesulitan untuk digerakkan dengan skala ini,” sambung Pitoyo.

Ide menciptakan robot Gundam bergerak setinggi 18 meter serta merta mendapatkan sambutan hangat dari para investor? Jawabannya tidak.

“Saat pertama kami ditolak oleh semua perusahaan yang kami dekati. Saya bilang jangan dianggap ini sebagai robot. Kita anggap gedung yang bisa bergerak. Mengapa? ini latihan. Di dunia ini mungkin kita tidak butuh gedung yang seperti ini, tetapi kalau memikirkan space di Mars, kalau mendirikan gedung lalu lingkungannya jelek kita bisa memindahkannya sedikit,” kata Pitoyo.

Dia mengakui robot Gundam ini tak akan sesempurna seperti dalam animasi. Namun, justru hal ini menjadi semacam pembuka bagi generasi muda agar mereka memoles kekurangan ini.

Rencananya Robot Gundam selesai sekitar Oktober 2020, setelah Olimpiade Tokyo dan akan dipamerkan selama setahun di Yokohama.

Gundam merupakan salah satu animasi populer di Jepang dan beberapa negara lain. Animasi ini dibuat oleh studio Sunrise dan serial pertamanya dimulai pada 7 April 1979.

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Stres perjalanan luar angkasa picu aktivasi virus pada astronaut

Jakarta (ANTARA) – Stres akibat penerbangan luar angkasa dapat melemahkan sistem imunitas tubuh pada astronaut dan membangkitkan lagi virus yang “tertidur” seperti herpes demikian kajian Frontiers in Microbiology.

“Keaktifan kembali virus laten selama penerbangan luar angkasa yang panjang dapat meningkatkan risiko medis selama misi-misi eksplorasi mendalam luar angkasa,” demikian peringatan para peneliti yang dipimpin peneliti Laboratorium KBR Wyle di Pusat Luar Angkasa Johnson AS Satish K. Mehta dalam situs Kantor Berita Rusia Sputnik News, Selasa.

Penelitian yang dilakukan kolaborasi antara lima peneliti Pusat Riset Badan Luar Angkasa Nasional AS (NASA) dan University of Colorado itu melibatkan 89 astronot.

Namun, Mehta mengatakan “hanya enam astronaut yang memunculkan gejala-gejala karena aktivasi kembali (virus) yang menyebar luas dengan cepat.”

Meskipun hanya sedikit astronaut yang mengalami kondisi reaktivasi virus, durasi di luar angkasa menjadi perhatian NASA sebagai faktor utama penyebab kemunculan lagi virus di dalam tubuh antariksawan.

Kondisi tersebut, bertahan selama sebulan setelah para astronot kembali ke Bumi, demikian menurut riset.

“Para astronaut NASA berada pada kondisi mikro-gravitasi dan terpapar radiasi kosmik selama berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan, belum lagi kekuatan tekanan gravitasi ketika mereka lepas landas ataupun kembali memasuki Bumi,” katanya.

Mehta mengatakan tantangan fisik itu semakin parah dengan faktor lain pemicu stres seperti pemisahan sosial, terkurung, dan siklus tidur-bangun yang berganti.

Rangkaian pemicu stres itu memaksa tubuh antariksawan untuk memproduksi hormon seperti kortisol dan adrenalin yang berperan penting dalam modulasi respons imunitas manusia.

“Virus-virus herpes telah berkembang dalam diri manusia selama ribuan tahun dan menggunakan strategi canggih untuk menghindari respons imun tubuh inang,” demikian penelitian itu.

Risiko kemunculan penyakit itu patut dipertimbangkan menyusul ambisi manusia untuk masuk dalam perlombaan misi ruang angkasa di luar orbit rendah Bumi.

Pada April, SpaceX diperkirakan akan menguji kendaraan Starship yang disebut Elon Musk punya durasi perjalanan selama satu hari menuju Mars.

Baca juga: Ilmuwan AS-Rusia sepakati kerja sama sains
Baca juga: Astronaut pertama Spanyol ditunjuk jadi Menteri Sains

Penerjemah: Imam Santoso
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Planet terdekat Bumi ternyata Merkurius bukan Venus

Jakarta (ANTARA) – Ditanya mengenai planet apa yang paling dekat dengan bumi, semua orang pasti menjawab Venus berdasarkan susunan Tata Surya yang kita tahu sekarang ini. Namun, sekelompok ilmuwan Amerika Serikat punya pendapat lain mengenai hal itu berdasarkan penelitian mereka baru-baru ini.

Penelitian terbaru dari sejumlah ilmuwan Amerika Serikat menemukan hasil yang mengejutkan. Mereka menyimpulkan bahwa planet terdekat Bumi bukanlah Venus seperti yang kita tahu selama ini, tapi Merkurius.

Dalam jurnal yang diterbitkan di Physics Today, Tom Stockman bersama Gabriel Monroe dan Samuel Cordner mengungkapkan bahwa Merkurius merupakan planet terdekat Bumi berdasarkan penghitungan jarak rata-rata dalam waktu tertentu ketika masing-masing planet bergerak pada orbitnya.

Ketika bergerak pada orbitnya mengitari Matahari, Merkurius dan Venus bergerak dalam kecepatan yang berbeda sehingga kadang mencapai jarak terdekat dengan bumi dan kadang berada dalam titik terjauhnya dengan Bumi.
  Gambar yang menunjukkan bahwa Venus (kuning) yang dikenal sebagai planet terdekat dengan Bumi, kadang-kadang berada dalam titik terjauh dari Bumi (biru) ketika bergerak dalam orbitnya mengelilingi Matahari (titik putih), sedangkan Merkurius (abu-abu) kadang-kadang lebih dekat dengan Bumi dibanding Venus. (ANTARA News/Physics Today)

Dari pergerakan itu lah, tiga ilmuwan itu menghitung jarak rata-rata Venus dan Merkurius terhadap Bumi dalam periode waktu tertentu. Dan, hasilnya adalah bahwa Merkurius mempunyai jarak rata-rata yang lebih dekat dengan Bumi dibanding Venus yang selama ini dikenal sebagai planet tetangga terdekat Bumi.

Ternyata, oleh beberapa fenomena kecerobohan, ambiguitas, dan sains populer telah disebarluaskan informasi berdasarkan pada asumsi yang salah tentang jarak rata-rata antarplanet, kata tiga ilmuwan AS itu dalam jurnalnya, dikutip Jumat.

Tiga ilmuwan yang meneliti kembali jarak antarplanet dengan Bumi itu adalah Tom Stockman yang seorang kandidat PhD di Universitas Alabama dan asisten peneliti pascasarjana di Los Alamos National Laboratory (LANL), bersama Gabriel Monroe, seorang insinyur mekanik penelitian di Pusat Pengembangan Riset Teknisi Angkatan Darat AS (ERDC), dan Samuel Cordner adalah seorang insinyur mesin di NASA.

Berdasarkan penghitungan jarak rata-rata antarplanet dengan Bumi, tiga ilmuwan itu menemukan bahwa Merkurius memiliki jarak rata-rata 0,28 AU (astronomical unit), lebih pendek dari Venus yang 0,72 AU.

Dengan hasil itu, maka mereka menyimpulkan bahwa Merkurius lah planet yang paling dekat dengan bumi berdasarkan jarak rata-rata dalam kurun waktu tertentu, dibanding enam planet lainnya dalam Tata Surya, termasuk Venus.

Venus kadang berada pada titik yang lebih jauh dengan Bumi dibanding Merkurius dalam waktu tertentu ketika Venus berada di titik terjauhnya dari Bumi (ketika berada di antara Bumi dan Matahari).

Ketiga ilmuwan itu mengatakan bahwa penghitungan dengan menggunakan jarak rata-rata yang mereka gunakan dalam penelitian ini merupakan pendekatan lebih baik dari yang ada sebelumnya.

Pewarta: Suryanto
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ilmuwan AS-Rusia sepakati kerja sama sains

Jakarta (ANTARA) – Kepala Akademi Sains Nasional Rusia Alexander Sergeyev dan Kepala Akademi Sains Nasional Amerika Serikat Marcia McNutt menyepakati kerja sama baru dalam bidang sains, teknik, dan kedokteran.

“Hari Ini adalah hari yang penting bagi kerja sama antara ilmuwan Amerika Serikat dan Federasi Rusia. Kami telah memperbarui kesepakatan dan kami telah merinci sejumlah bidang kerja sama seperti persoalan penelitian luar angkasa, penelitian iklim, kedokteran, penelitian ilmu saraf, penelitian ilmu sosial, dan sebagainya,” ujar Sergeyev seperti dilaporkan Kantor Berita Rusia ITAR-TASS, Rabu.

Kolaborasi Rusia-AS itu sekaligus menjadi peringatan 60 tahun kerja sama pertama akademi sains kedua negara.

Ia mengatakan, penandatanganan kesepakatan sains itu sangat penting pada masa hubungan geopolitik yang sulit. Bahkan jika sejumlah kerja sama antara kedua negara musnah, hubungan kerja sama dalam bidang sains harus tetap terbangun, dan itu adalah penghubung yang mendukung komunikasi antara AS dan Rusia.

Delegasi Rusia dan AS, menurut Sergeyev, telah mendiskusikan sejumlah isu dalam kolaborasi itu seperti penelitian luar angkasa, termasuk program penjelajahan bulan, proyek penelitian Venus, dan eksperimen di kapal Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Sergeyev juga menyatakan isu iklim dan ekologi sebagaimana isu keamanan nuklir dan biologi juga tercantum dalam area potensi kerja sama karena kesepakatan itu bersifat umum.

“Negara kami adalah negara multi-nasional dan multi-pengakuan. Itu alasan kenapa isu pembangunan berkelanjutan, secara khusus pada isu migrasi, tidak dapat dikesampingkan. Berikutnya, kami memutuskan sejumlah proyek kerja sama akan harus dikhususkan pada topik-topik itu,” ujarnya.

 

Penerjemah: Imam Santoso
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dosen ITB ciptakan nugget besi konsentrat pasir besi

Bandung (ANTARA) – Dosen  Teknik Metalurgi Laboratorium Pirometalurgi, pada Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr Ing Zulfiadi Zulhan MT berhasil menciptakan nugget besi dari konsentrat pasir besi.

Humas ITB dalam siaran persnya di Bandung, Senin, menyatakan penelitian yang dilakukan sepenuhnya didanai oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti)  itu juga dibantu oleh sejumlah mahasiswa di Teknik Metalurgi.

Indonesia, urai Zulfiadi, dikenal sangat kaya akan sumber daya alam dan mineral salah satu di antaranya adalah sumber daya alam dari pasir besi.

Pasir besi tersebut tersebar di beberapa daerah seperti di Pesisir Barat Sumatera, sepanjang Pantai Selatan Jawa, Maluku dan daerah lainnya.

Berdasarkan data Pusat Sumber Daya Geologi (PSDG), sumber daya besi yang tarkandung di dalam pasir besi Indonesia itu mencapai dua miliar ton (425 juta ton logam besi) dengan cadangan 173 juta ton (25 juta ton logam besi).

Namun sayangnya, pemanfaatan tersebut belum maksimal karena berbagai kendala misalnya belum adanya teknologi pengolahan dan juga dampak lingkungan yang dihasilkan.

Pada tahun 2009, pemerintah telah mengeluarkan UU No. 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara. Kebijakan pemerintah tersebut berisi larangan ekspor produk mineral termasuk bijih/pasir besi dalam bentuk mentah dan diwajibkan untuk diolah di dalam negeri dalam rangka peningkatan nilai tambah mineral.

Karena ada aturan tersebut, perusahaan-perusahaan tambang diberi waktu untuk mengolah hasil tambang sendiri, katanya.

“Pada 2013 diadakan seminar di Jakarta yang mendiskusikan kesiapan perusahaan mengenai hal tersebut. Ternyata ada masalah dalam hal pasir besi karena belum ada teknologi pengolahannya, saya kemudian membuat proposal penelitian dan diterima sebagai penelitian awal dalam karakterisasi pasir besi dan bagaimana mereduksinya,” lanjutnya.

Dr Zulfiadi menjelaskan, hingga saat ini, proses konsentrasi telah dilakukan untuk meningkatkan kadar besi hingga lebih besar dari 50 persen dan titanium sekitar delapan persen.

Dia mengatakan konsentrat ini belum digunakan sebagai bahan baku untuk mengekstrak logam besi maupun titanium baik logam maupun oksida.

Penelitian selesai dilakukan pada 2015 dalam skala lab di Laboratorium Pirometalurgi FTTM ITB untuk memisahkan besi dari konsentrat pasir besi sehingga kadar titatium dalam terak dapat meningkat.

Menurut Dr Zulfiadi, dari hasil penelitian tersebut manfaat yang bisa dihasilkan ialah kemampuan perusahaan dalam mengolah barang tambang yang ada di Indonesia, karena sejauh ini belum ada teknologi pengolahannya.

“Jika dilanjutkan, ekonomi di daerah akan berkembang, pendapatan daerah meningkat, efeknya banyak,” ujarnya.

Namun hitungan keekonomian proyek ini masih perlu dikaji terutama jika kandungan titanium dalam pasir besi tersebut dapat diekstraksi.

Baca juga: ITB luncurkan Base Station 4G Infinitebe
Baca juga: ITB masuk 200 besar perguruan tinggi se-Asia Pasifik
 

Pewarta: Ajat Sudrajat
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menimbang regulasi perlindungan data pribadi pengguna internet (bagian V)

Jakarta (ANTARA/Jacx) Perlindungan data pribadi penggunan internet saat ini terus menjadi salah satu isu yang penting dan menarik perhatian masyarakat karena menyangkut privasi dan kerahasiaan informasi mengenai individu di masyarakat.

Tulisan ini merupakan bagian kelima dari serangkaian artikel yang membahas perlindungan data pribadi pengguna internet di Indonesia dengan bahan pembanding aturan mengenai hal itu yang telah disahkan dan berlaku di negara-negara yang menjadi anggota Uni Eropa.

Uni Eropa telah memiliki aturan yang mereka namakan General Data Protection Regulation (GDPR) yang diberlakukan pada 27 April 2016 lalu.

GDPR sangat relevan karena Indonesia juga sedang menghadapi masalah serupa yang menjadi alasan pengesahan GDPR seperti praktik pembobolan data pribadi pengguna internet (data breach) untuk tujuan-tujuan komersial atau politik yang merugikan publik sebagai pengguna internet.

Artikel terkait : Menimbang Regulasi Perlindungan Data Pribadi Pengguna Internet (Bagian I)

Artikel terkait : Menimbang Regulasi Perlindungan Data Pribadi Pengguna Internet (Bagian II)

Salah satu yang diatur dalam GDPR adalah keamanan data pengguna internet dan transparansi tentang pembobolan data.

Pengendali data atau pengolah data diwajibkan memberitahukan pembobolan atau pengambilan data secara diam-diam yang telah mereka lakukan sebagaimana diatur.  

Apabila terjadi pembobolan data pribadi Subyek, seperti akses tanpa izin ke akun pribadi atau pengambilan data yang berefek penghapusan data, ada beberapa kewajiban pemberitahuan yang  mesti dilaksanakan pengendali data.

Yang pertama, mereka wajib memberikan Pemberitahuan Kepada Lembaga Pengawas Keamanan Data. Pemberitahuan ini harus dilakukan tanpa keterlambatan yang tidak semestinya, dan jika memungkinkan, dalam 72 jam setelah diketahui adanya pembobolan data. 

Namun, kewajiban ini tidak berlaku apabila pelanggaran tidak menghasilkan resiko terhadap hak dan kebebasan individu Subyek Data. Jika pengendali data atau pengolah data tidak memberitahukan selama periode waktu ini, harus ada penjelasan tentang  alasan keterlambatan ini. 

Pemberitahuan itu harus setidaknya menjelaskan sifat pelanggaran, kategori data,  jumlah subyek data yang terbobol datanya, pihak-pihak yang kira-kira terlibat, penjelasan petugas perlindungan data yang berkompeten dan ditunjuk pengendali data atau pengolah data, konsekuensi yang mungkin muncul serta tindakan yang sedang atau diusulkan agar diambil segera. 

Semua pembobolan data harus didokumentasikan termasuk dampak serta tindakan perbaikan yang dibutuhkan.

Artikel terkait : Menimbang Regulasi Perlindungan Data Pribadi Pengguna Internet (Bagian III)
Artikel terkait: Menimbang Regulasi Perlindungan Data Pribadi Pengguna Internet (Bagian IV)

Selain memberitahukan kepada lembaga pengawas keamanan data, pengelola juga wajib memberitahukan hal itu kepada subyek data.

Pemberitahuan ini harus dilakukan tanpa keterlambatan yang tidak semestinya apabila pelanggaran data dapat berujung pada resiko serius terhadap hak dan kebebasan subyek data. 

Pemberitahuan ini harus menjelaskan konteks pembobolan data yang terjadi secara jelas serta memberikan informasi lain yang terkait. Pemberitahuan dapat diabaikan, misalnya jika data telah dienkripsi dengan aman serta akses ke kunci enkripsi belum dibuka kepada pihak lain.  

Pemberitahuan yang bersifat publik dimungkinkan jika pemberitahuan yang bersifat individu (orang per orang) dianggap memerlukan usaha dan biaya yang tidak sepadan.

Bagaimana sanksi yang diberikan?, sebelum pemberlakuan GDPR, negara anggota Uni Eropa telah menerapkan sanksi denda untuk perusahaan atau organisasi yang melakukan pelanggaran pembobolan data (data breach) atau penyalahgunaan data. 

Sanksi denda ini pada umumnya tidak terlalu memberatkan, misalnya 500,000 pounds di Inggris. Namun beberapa negara belakangan telah meningkatkan denda tersebut, 3 juta Euro di Prancis dan 820,000 Euro atau hingga 10 persen dari pendapatan tahunan bersih perusahaan di Belanda. 

GDPR kemudian mengatur denda yang lebih berat, yakni dapat mencapai 20 juta Euro atau 4 persen pendapatan global tahunan perusahaan untuk jenis-jenis pelanggaran tertentu. 

Pemberlakuan denda ini bersifat berjenjang tergantung pada sifat spesifik pelanggaran pembobolan data yang terjadi dan perkiraan kerugian yang ditimbulkan. Dengan demikian, denda dapat digolongkan denda hingga 2 persen (atau 10 juta Euro) atau denda hingga 4 persen (atau 20 juta Euro).

Untuk memutuskan denda administratif dan berapa jumlahnya, Lembaga Pengawas Perlindungan Data mempertimbangkan beberapa hal berikut :

1. Bentuk, tingkat kegawatan dan durasi pembobolan data yang terjadi dengan mempertimbangkan sifat, cakupan atau tujuan pengolahan data yang menyertainya, jumlah subyek data
    yang terdampak dan tingkat kerusakan yang mereka alami

2. Apakah pelanggaran pembobolan data bersifat sengaja atau lalai?

3. Tindakan mitigasi yang dilakukan perusahaan atau organisasi untuk mengatasi pembobolan data

4. Rekam jejak sebelumnya dari perusahaan atau organisasi yang melakukan pelanggaran

5. Apakah perusahaan atau organisasi tersebut kooperatif terhadap lembaga pengawas perlindungan data?

6. Apakah mereka dengan inisiatif sendiri menyampaikan pemberitahuan atau laporan kepada lembaga pengawas perlindungan data ketika menemukan indikasi pembobolan data?

Sebagai contoh pendekatan berjenjang untuk penerapan denda, denda maksimal atau denda yang mendekati maksimal terutama sekali diberlakukan untuk pelanggaran pasal-pasal: pemindahan data antar-bangsa,  transparansi dan akuntabilitas pemberlakuan syarat-syarat persetujuan untuk Subyek Data, serta hak-hak Subyek Data. 

GDPR membuka peluang bagi negara anggota Uni Eropa untuk menerapkan sanksi-sanksi tambahan di luar sanksi denda administratif. Hal ini dapat berupa sanksi pidana untuk pelanggaran yang serius terhadap prinsip perlindungan data. 

Dalam rangka pelaksanaan sanksi, Lembaga Pengawas Perlindungan Data memiliki wewenang untuk: melakukan audit, meminta perbaikan sistem pengolahan data dalam kurun waktu tertentu, meminta penghapusan data atau menangguhkan pemindahan data ke penerima di negara ketiga.

Di bawah GDPR, subyek data memiliki dasar hukum lebih kuat untuk meminta tanggung-jawab lebih dari pihak Pengolah atau Pengendali Data, termasuk meminta kompensasi dari kerugian yang diderita Subyek Data. 

Klaim kompensasi dapat berkaitan dengan pelanggaran GDPR atau kegagalan Pengendali Data atau Pengolah data mengikuti instruksi Lembaga Pengawas Perlindungan Data. 

Secara umum, Subyek Data dimungkinkan untuk meminta kompensasi dari Pengendali Data dan Pengolah Data untuk kerusakan material atau non material, termasuk kerugian non finansial yang diderita Subyek Data. 

Subyek Data dapat memperjuangkan aspirasi dan tuntutannya secara pribadi maupun secara kelompok sehingga dimungkinkan dibentuknya badan-badan perwakilan Subyek Data untuk membawa aspirasi dan tuntutan mereka ke hadapan Lembaga Pengawas Perlindungan Data atau secara langsung ke pihak Pengendali Data atau Pengolah Data.

GDPR secara gamblang memberikan kemungkinan tanggung jawab bersama untuk Pengendali Data dan Pengolah Data jika mereka sama-sama dianggap bertanggung jawab untuk pelanggaran pembobolan data atau penyalahgunaan data. Tuntutan dapat dibawa baik ke pengadilan negara anggota Uni Eropa di mana pihak Pengendali Data atau Pengolah data berada maupun di mana Subyek Data berada.  

Disadari atau tidak penjaminan keamanan data pribadi sangat penting, meski demikian tak hanya pengelola data saja yang perlu memahami bagaimana informasi pribadi dilindungi namun juga perlu membangun kesadaran pada masyarakat untuk peduli pada keamanan data pribadi.

*Agus Sudibyo, Head of New Media Research Center ATVI Jakarta.
 

Pewarta: Agus Sudibyo*
Editor: Panca Hari Prabowo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Serah terima prorotipe sistem penggerak tram listrik

Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Joni Hermana (kiri) menguji coba sistem penggerak tram listrik disaksikan Direktur Teknologi dan Komersial PT Industri Kereta Api (Persero) Agung Sedaju (kedua kiri), Kepala Subdirektorat Industri Energi dan Transportasi Kemenristekdikti Wiwik Juliani (kedua kanan) dan Direktur Pusat Unggulan Iptek Sistem Kontrol Otomotif (PUI-SKO) ITS Muhammad Nur Yuniarto (kanan) saat acara serah terima di Gedung Pusat Riset Mobil Listrik ITS di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (8/3/2019). ITS melalui PUI-SKO bekerja sama dengan PT INKA (Persero) menyelesaikan riset dan pembuatan sistem penggerak yang akan diaplikasikan pada tram listrik sebagai bentuk dukungan dan semangat dalam mengembangkan sistem penggerak kendaraan listrik dari produk riset dalam negeri. ANTARA FOTO/Moch Asim/hp.

Solusi mengatasi cerebral palsy

Jakarta (ANTARA) – Cerebral Palsy (CP) atau palsi serebral dahulu dinamakan Little’s disease. Pernah disalahtafsirkan sebagai brain paralysis, hingga akhirnya dikenal sebagai spastic displegia. CP tidak menular dan bukan penyakit keturunan. CP ditemukan William Little, seorang dokter bedah Inggris, pada tahun 1860.

Cerebral adalah kedua belah otak (hemisphere), dan palsy adalah bermacam penyakit yang mengenai pusat pengendali gerakan tubuh. CP didefinisikan sebagai sekelompok gangguan (disorders) perkembangan fungsi gerak dan postur tubuh yang menyebabkan keterbatasan aktivitas yang berhubungan dengan gangguan yang terjadi saat otak janin atau bayi berkembang.

Gangguan motor ini seringkali diiringi gangguan (disturbances) sensasi, kognisi, komunikasi, persepsi, perilaku, dan serangan kejang. Singkatnya, CP adalah pergerakan abnormal atau postur tubuh yang tidak normal akibat gangguan perkembangan otak.

Prevalensi CP di negara maju diperkirakan 2 sampai 2,5 kasus per 1.000 bayi lahir hidup, sedangkan di negara berkembang sekitar 1,5 sampai 5,6 kasus per 1.000 bayi lahir hidup. Di USA, diperkirakan terdapat lebih dari 500.000 penderita.

Status sosioekonomis yang rendah dapat meningkatkan faktor risiko CP. Pria lebih berisiko terkena CP. Diagnosis CP dilakukan setelah anak berusia 1 tahun sampai 3 tahun.

Penyebab CP meliputi empat faktor, yakni pertama, prenatal (sebelum melahirkan), yang meliputi infeksi di dalam kandungan, cacat bawaan, bahan toksik (beracun) atau teratogenik (berefek menimbulkan kecacatan bagi janin), trauma perut, telah berkali-kali melahirkan (multiple births), penyakit yang diderita ibu.

Kedua, keadaan selama hamil yang dapat meningkatkan risiko terkena CP, misalnya polihidramnion (volume air ketuban lebih dari normal, biasanya lebih dari dua liter), perdarahan di trimester ketiga, atau terapi ibu hamil (bumil) dengan hormon tiroid, estrogen, progesteron. Selain itu, bila pada ibu ditemukan gangguan kejang, hipertensi (tekanan darah tinggi), atau proteinuria (terdapat protein di dalam air kencing) berat, atau riwayat terpapar methyl mercury (sejenis logam berat).

Kondisi selama hamil lainnya berupa perlambatan pertumbuhan janin di dalam kandungan (intrauterine growth retardation), cacat bawaan pada janin. Demikian pula, bayi kembar yang lahir hidup juga berisiko terkena CP,  khususnya, jika salah satu bayi kembar meninggal, maka yang hidup lebih berisiko terkena CP.

Perlu diketahui, infeksi TORCH (Toksoplasmosis, Other Diseases, Rubella, Citomegalovirus, Herpes Simpleks) pada ibu hamil juga merupakan salah satu penyebab CP.

Ketiga, neonatal (bulan-bulan pertama kelahiran bayi), meliputi bayi lahir prematur (kurang dari 32 minggu), berat bayi saat lahir kurang dari 2.500 gram, perlambatan pertumbuhan (growth retardation), perdarahan di dalam kepala (intracranial hemorrhage), infeksi, perlambatan irama jantung (bradikardi) dan kekurangan suplai oksigen (hipoksia), kejang, tingginya kadar bilirubin dalam darah (hyperbilirubinemia), letak janin yang abnormal saat melahirkan (sungsang, lintang).

Keempat, postnatal (masa setelah melahirkan), meliputi gangguan di otak (seperti hypoxic-ischemic encephalopathy), trauma, infeksi (misalnya: meningitis, ensefalitis), perdarahan di dalam kepala, kelainan faktor pembekuan darah, periventricular leukomalacia (cedera otak tersering dijumpai pada bayi prematur), kernicterus (kuning pada bayi akibat penumpukan pigmen empedu di ganglia basalis otak, tulang belakang, dan jaringan saraf lainnya).

Potret klinis

Sebagai deteksi awal, dokter umum atau dokter spesialis anak (ahli pediatri) akan memperhatikan tiga hal utama yang jelas terlihat pada anak CP, yakni keterlambatan perkembangan motor, gangguan gerak akibat kelumpuhan, dan gangguan postur tubuh.

Penderita CP menunjukkan karakteristik yang unik. Saat berjalan kedua tungkai tampak bergerak kaku dan lurus, gaya berjalan seperti ini disebut scissors gait, terkadang berjalan tidak stabil dengan gaya berjalan kaki terbuka lebar, terkadang diiringi tremor, menggigil.

Selain itu terlambat berjalan, atau baru bisa berjalan di usia 24 bulan sampai 3 tahun, atau bahkan tidak bisa berjalan sama sekali, gerakan menulis yang tak terkontrol dan perlahan, terlihat menyeringai, tampak (selalu) mengeluarkan air liur, sulit makan dan menelan, sulit bicara dan buang air kecil tak terkontrol (misalnya mengompol).

Potret klinis di atas dapat disertai  gangguan pertumbuhan, gangguan belajar, gangguan penglihatan sampai kebutaan, menurunnya intelektual hingga retardasi mental (IQ < 50), tidak bisa berjalan, kejang/epilepsi, gangguan kognisi, komunikasi dan perilaku,  tidak bisa merasakan dengan meraba atau menyentuh. Uniknya, meskipun memiliki IQ rendah, daya intelektual penderita CP tidak selalu terganggu.

Diagnosis CP dilakukan dokter melalui anamnesis komprehensif, pemeriksaan fisik holistik, termasuk pemeriksaan sistem persarafan secara paripurna. Namun sampai sekarang belum ada tes laboratorium spesifik untuk memastikan diagnosis CP. Sedangkan pencitraan radiologis dengan MRI dan/atau CT scan otak dapat mengidentifikasi daerah otak yang terkena.

Mulai bulan Maret 2017, telah terbentuk International Cerebral Palsy Genomics Consortium (ICPGC). Tujuan utamanya untuk memfasilitasi koleksi, analisis, interpretasi, dan diseminasi temuan genomik CP dan data klinis terkait lainnya untuk memaksimalkan upaya riset tentang ini. ICPGC juga mengembangkan platform untuk mengintegrasikan pelbagai data genotip, fenotip, pencitraan, dan ketersediaan sampel biobank.

Terapi CP

Pilihan terapi untuk mengontrol kejang dan spasme otot yang menyertai CP antara lain obat golongan benzodiazepin (seperti diazepam), golongan antikonvulsan (seperti asam valproat, fenobarbital), golongan relaksan otot rangka, (seperti baclofen, dantrolene), agen agonis adrenergik alfa-2 yang berefek pereda nyeri/analgesik (seperti tizanidine), golongan dopamine prodrugs, seperti levodopa, carbidopa (levodopa sebaiknya tidak dipakai sebagai obat tunggal, namun dikombinasikan dengan carbidopa, untuk mengurangi efek mual dan muntah).

Bila tremor (gemetar), maka dokter akan merekomendasikan pemberian obat dari golongan antikolinergik, seperti trihexyphenidyl.

Sedangkan terapi penunjang lainnya adalah manajemen orthopaedic, seperti posturing, seating, bracing. Manajemen orthotic, seperti menggunakan splint, cast untuk meningkatkan fungsi, atau penyangga khusus untuk kompensasi keseimbangan otot.

Bisa dilengkapi pula dengan terapi perilaku, terapi fisik, terapi bicara, terapi okupasi, seperti menyuapi, melatih makan-minum, berpakaian, berdandan, bersih diri seperti mandi, buang air kecil-besar hingga dapat mandiri.

Sebaiknya, dikombinasikan juga dengan recreational therapy, seperti bernyanyi, menggambar, mendongeng, mengenal huruf dan angka dengan kartu/jari, bercanda, bermain bongkar pasang, puzzle, game di komputer, agar penderita CP dan orang tuanya merasa bahagia menjalani terapi.

Pembedahan direkomendasikan dokter bedah bila memang diperlukan. Misalnya dengan teknik percutaneous myofascial lengthening (PERCS), suatu tipe operasi atau pembedahan invasif minimal, yang dipergunakan untuk mengendurkan otot yang tegang. Teknologi terbaru hyperbaric oxygen therapy (terapi penyembuhan dengan oksigen) relatif mahal, namun juga efektif untuk penderita CP.

Jika penderita CP sulit makan dan menelan, dapat diberi sayur dan buah yang dilembutkan. Agar tak tersedak, sebaiknya ia duduk dan menegakkan leher saat makan atau minum. Pada kondisi yang lebih parah, direkomendasikan dengan gastrostomy (operasi membedah dinding perut), di mana dokter bedah akan memasang selang langsung ke lambung, untuk memasukkan makanan dan minuman.

Dalam hal ini diperlukan kerja sama dan koordinasi yang baik antara dokter spesialis (anak, saraf, psikiatri anak, orthopedi), terapis fisik dan okupasi, pelatih bicara dan bahasa, psikolog, guru, pekerja sosial, pengasuh. Doa, dukungan, didikan, dan kesabaran orang tua juga menjadi  hal terpenting  dalam melatih kemandirian anak.

Upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah cedera kepala antara lain dengan menggunakan helm pelindung, pengawasan saat mandi dan bermain, serta eliminasi kekerasan fisik pada anak. Ikterus neonatorum (perubahan warna menguning pada bayi baru lahir) dapat dicegah dengan fototerapi (terapi dengan sinar ultraviolet) atau transfusi tukar. Infeksi rubella (campak Jerman) dicegah dengan imunisasi sebelum hamil.

Di sisi lain, tim medis dan keluarga juga perlu mewaspadai pelbagai potensi komplikasi pada penderita CP. Misalnya kejang, infeksi, malnutrisi, problematika berkomunikasi, ketidakmampuan beraktivitas di dalam kehidupan sehari-hari, serta disabilitas, yakni cacat kognitif, cacat fisik, gangguan penglihatan, dan penurunan pendengaran.

Melalui upaya manajemen, tatalaksana, dan pencegahan yang paripurna dan terpadu, maka penderita CP dapat menjalani hidup dengan bahagia dan sejahtera.  

*) Penulis adalah dosen tetap Fakultas Kedokteran Unismuh Makassar, penulis puluhan buku, pengurus IMA Chapter Makassar, dan dokter literasi digital

Baca juga: Mahasiswa Ubaya ciptakan alat bantu cerebral palsy
Baca juga: Anak-anak Istimewa Yang Bersuara Tanpa Kata

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019