Peluncuran becak listrik UGM

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan (kiri) bersama Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Panut Mulyono (kanan depan) mencoba becak listrik saat diluncurkan di Balairung UGM, Sleman, DI Yogyakarta, Jumat (18/1/2019). UGM bekerja sama dengan PT PLN mengembangkan 15 prototype becak listrik dengan penggerak motor listrik 1500 watt 48 V dan diberikan kepada paguyuban pengemudi becak kawasan Bulak Sumur. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/foc.

BMKG prakirakan “supermoon” picu rob

Semarang  (ANTARA News) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan fenomena Supermoon yang disertai dengan Bulan purnama akan memicu limpasan air laut yang masuk ke darat atau rob di wilayah pesisir Kota Semarang.

 “Supermoon` yang disertai Bulan purnama akan memengaruhi pasang maksimal air laut,” kata Kepala Seksi  Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas Semarang, Slamet Wiyono, di Semarang, Jumat.

 Fenomena pasang air laut itu, kata dia, diprakirakan terjadi pada 19 hingga 22 Januari 2019.

 Menurut dia, kawasan pesisir Kota Semarang yang biasa dilanda rob diperkirakan akan dilanda genangan yang lebih tinggi.

 Prakiraan ketinggian maksimal naiknya permukaan air laut itu, kata dia, akan mencapai satu meter.

 “Ketinggian maksimal diperkirakan terjadi pada 21 Januari 2019,” kata dia.

 Peningkatan permukaan air laut, lanjut dia, diprakirakan terjadi mulai malam hingga dini hari dengan durasi mencapai enam jam.

 Secara umum, menurut dia, fenomena “Supermoon” yang terjadi akibat grativasi Bulan saat jaraknya paling dekat dari Bumi itu akan melanda kawasan pesisir utara dan selatan Provinsi Jawa Tengah.

 Oleh karena itu, kata dia, BMKG mengimbau masyarakat di wilayah pesisir, petani garam, dan kegiatan bongkar muat di pelabuhan untuk mewaspadai terjadinya pasang air laut itu.

Baca juga: BBMKG siapkan teropong saksikan “Supermoon”
 Baca juga: “Super blue blood moon” baru muncul lagi 2028 dan 2037
 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Satelit Lapan A-1 sudah bertahan 12 tahun di orbitnya

Jakarta  (ANTARA News) – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mengatakan salah satu penyebab satelit Lapan-A1/Lapan-TUBSat tetap bertahan sejak mengudara pada 7 Januari 2007 hingga menginjak usia yang ke-12 pada 2019 karena gangguan badai matahari yang mininum di orbitnya.
 
“Saat diluncurkan pada 2007 aktivitas matahari sedang minimum, sehingga gangguan badai matahari minimum,” kata Kepala Lapan Thomas Djamaluddin saat dihubungi Antara dari Jakarta, Jumat.

Thomas menuturkan umur satelit ditentukan dua hal pokok, yaitu keberadaan di orbitnya dan ketahanan instrumennya. 

“Satelit Lapan-A1 pada ketinggian 630 kilometer itu bisa bertahan di orbit  sekitar puluhan tahun. Padahal daya tahan instrumennya rata-rata hanya 2-3 tahun untuk kelas satelit mikro,” tuturnya.

Sementara itu, instrumen kameranya, lanjut dia, ternyata bertahan sampai enam tahun, setelah itu kualitasnya menurun.  Sedangkan beberapa instrumen lainnya ada yang masih beroperasi sampai saat ini dengan mengirimkan sinyal. 

Thomas menjelaskan badai matahari adalah semburan partikel berenergi tinggi terutama proton dan elektron dari matahari. Instrumen elektronik satelit bisa terganggu oleh semburan partikel energi tinggi tersebut.

Ketika instrumen elektronika terganggu, fungsi satelit terganggu sehingga satelit tidak bisa beroperasi lagi, baik sebagian fungsinya maupun seluruhnya. 

“Satelit yang tidak bisa beroperasi lagi atau mati menjadi sampah antariksa,” tuturnya.

Pada saat puncak aktivitas matahari,  badai matahari sering terjadi dan bisa mengurangi daya tahan satelit sehingga satelit cepat mati.

Satelit Lapan-A1/Lapan-TUBSat adalah hasil kerja sama Lapan dengan Technische Universität Berlin, Jerman. Pembuatan dan peluncuran Satelit Lapan-A1 merupakan awal penguasaan teknologi satelit LAPAN. 

Setelah berhasil membuat satelit di Jerman, tim kembali ke Lapan, lalu mengembangkan fasilitas pembuatan satelit di Pusat Teknologi Satelit Lapan Rancabungur, Bogor. Kemudian membuat generasi berikutnya, yakni satelit Lapan-A2 dan Lapan-A3 yang saat ini sudah berada di orbit.

Sebagai satelit pengamatan, satelit itu dapat bermanfaat untuk melakukan pemantauan langsung terhadap sejumlah fenomena seperti kebakaran hutan, gunung meletus, tanah longsor dan kecelakaan kapal maupun pesawat.

Namun, Thomas mengatakan satelit LAPAN-A1 saat ini lebih berfungsi sebagai laboratorium uji kesehatan satelit, sedangkan fungsi pemotretan situasi di permukaan bumi sudah diambil alih oleh satelit LAPAN-A2 dan LAPAN-A3.

Satelit LAPAN-TUBSat yang berbentuk kotak dengan berat 57 kilogram dan dimensi 45 x 45 x 27 sentimeter itu membawa sebuah kamera beresolusi tinggi dengan daya pisah 5 meter dan lebar sapuan 3,5 kilometer di permukaan bumi pada ketinggian orbit 630 kilometer serta sebuah kamera resolusi rendah berdaya pisah 200 meter dan lebar sapuan 81 kilometer. 

Baca juga: Lapan kembangkan satelit operasional mikro
Baca juga: Wapres Kalla saksikan peluncuran satelit LAPAN 
 

Pewarta: Martha Herlinawati S
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BPPT luncurkan laboratorium panel surya

Petugas melakukan uji coba kekuatan Panel Surya seusai peresmian Laboratorium Uji Modul Photovoltaic (Panel Surya) di Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (9/1/2019). Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) meresmikan Lab Uji Modul Panel Surya untuk menjamin kualitas modul surya sebagai komponen utama PLTS serta dapat dijadikan laboratorium acuan nasional bagi industri modul surya. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/foc.

Kontes Robot Pintar

Pelajar mengikuti Kontes Robot Pintar Yogyakata 2018 di Taman Pintar, Yogyakarta, Sabtu (24/11/2018). Acara yang digagas oleh Taman Pintar Yogyakarta dan diikuti oleh ratusan pelajar tingkat SD hingga SMA dari Provinsi DI Yogyakarta dan Jawa Tengah itu menjadi ajang meningkatkan pemahaman akan keilmuan robotik di kalangan generasi muda. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/foc. 

Genting berbahan “styrofoam” mahasiswa Undip juara di Jerman

Semarang (ANTARA News) – Genting berbahan styrofoam karya sekelompok mahasiswa Universitas Diponegoro Semarang menyabet emas dalam ajang internasionl yang berlangsung di Jerman, 1-4 November 2018.

“Gagasan ini terinspirasi dari kegelisahan kami melihat banyaknya limbah styrofoam yang tidak terpakai. Jadi, kami manfaatkan,” kata Yunnia Rahmadanni, selaku ketua tim, di Semarang, Senin.

Bersama keempat kawannya, yakni Laitufa Nidia, Nurul Halwiyah, Ibadurrahman, dan Rufqi Rudwi Rafita, Yunnia mengikuti International Trade Fair of Ideas, Inventions and New Products (The iENA), di Nurenberg, Jerman.

Ajang yang digelar lembaga internasional AFAC itu diikuti 800 peneliti muda dari 30 negara yang ikut berpartisipasi, dan peserta dari Indonesia ada 2 tim, salah satunya dari Undip.

Menurut Yunnia, “styrofoam” selama ini dikenal sebagai produk yang tidak ramah lingkungan karena tidak dapat diurai sehingga muncullah ide untuk memanfaatkan keberadaan limbah yang berlimpah itu.

“Ini (styrofoam) kami dapat di tempat pembuangan akhir (TPA) di kampus. Kami beberapa kali uji coba, campur dengan semen dan pasir. Ya, memang tidak mudah,” kata Yunnia mahasiswa Fakultas Sains dan Matematika Undip itu.

Dari beberapa kali uji coba, akhirnya mereka menemukan formula yang pas antara semen, pasir, dan “styrofoam” untuk menghasilkan produk genting yang lebih ringan dan tahan lama.

Ukuran “styrofoam” yang dibutuhkan, kata dia, sekitar 2-3 persen dari berat total per genting dan harus dalam hitungan yang tepat agar bisa menjadi genting yang diinginkan.

Jika genting biasanya memakai bahan tanah liat, mereka justru tidak memilihnya karena pengeringannya dibakar, sementara “styrofoam” justru tidak bagus jika dibakar karena mencemari.

“Dibandingkan genting biasa yang beratnya 3-4 kilogram, ini lebih ringan 15-20 persen. Kami akan terus perbaiki produk ini agar nanti bisa lebih ringan lagi,” katanya.

Dengan berat yang ringan, Yunnia mengatakan bisa meminimalisasi dampak cidera ketika terjadi bencana alam, seperti gempa bumi yang menyebabkan genting runtuh.

Sementara itu, dosen pembimbing delegasi Undip itu, M Nur Sholeh mengaku bangga hasil inovasi anak bimbingannya mampu meraih medali emas mengalahkan delegasi dari negara-negara lainnya.

“Penambahan `styrofoam` ini dilakukan dengan komposisi tertentu agar dihasilkan genting yang relatif ringan dan memiliki kelentingan optimal sebagaimana yang diinginkan,” katanya.

Penggunaan genting tersebut, kata pengajar Mekanika Rekayasa Struktur Bangunan Tahan Gempa Sekolah Vokasi Undip itu, bisa meminimalisasi korban jiwa jika terjadi gempa bumi.

Baca juga: ITS juara umum kontes internasional model jembatan
Baca juga: Tim Rajawali ITB Raih Dua Penghargaan Internasional

 

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Pesawat NASA InSight mendarat di Mars

Jakarta (ANTARA News) – Pesawat antariksa milik NASA, InSight, berhasil mendarat di Mars, Senin (26/11) waktu setempat, membawa perangkat yang dirancang untuk mempelajari getaran seismik di planet tersebut.

Pesawat ini diluncurkan dari California pada Mei lalu, ia akan menjelajahi planet tersebut selama 24 bulan ke depan (hampir satu tahun di Mars) untuk mengumpulkan data demi menyingkap bagaimana Mars terbentuk, yang juga akan memberi informasi baru terhadap asal-usul bumi serta planet lain di sistem tata surya, seperti diberitakan Reuters.

“Alasan kami menggali Mars adalah untuk memahami, bukan hanya Mars, tapi, juga bumi,” kata pimpinan investigator Jet Propulsion Laboratory (JPL), Bruce Banerdt.

Salah satu topik utama yang mereka gali mengenai mengapa Mars, yang semula planet hangat dan basah, berevolusi menjadi kering, dingin, sepi dan tidak ada kehidupan. 

Kepala ilmuwan di NASA, James Green, meyakini ada sesuatu yang saat ini belum bisa dijelaskan, Mars dahulu diduga memiliki kutub magnet atau aktivitas tektonik.

Aktivitas tektonik di bumi banyak menghilangkan jejak mengenai terbentuknya planet ini, namun, berbeda dengan mars, yang cenderung statis sehingga ilmuwan dapat membuat runut waktu geologi.

InSight dan misi Mars lainnya, dijadwalkan pada 2020, merupakan pendahuluan untuk misi NASA eksplorasi Mars oleh manusia.

Tentang InSight

InSight adalah pesawat ulang-alik ke-delapan yang sukses mendarat di Mars, pesawat lainnya juga dioperasikan oleh NASA. Pesawat menembus atmosfer Mars yang tipis dalam kecepatan 19.795 kilometer per jam dan terjun dalam kecepatan 77 mil ke permukaan planet dalam 7 menit.

Pesawat diprogram agar berhenti selama 16 menit untuk menghilangkan debu di sekitarnya, kemudian ia mengembangkan panel surya, seperti membentangkan sayap, untuk menghasilkan daya. 

InSight merupakan singkatan dari Interior Exploration Using Seismic Investigations, Geodesy and Heat Transport, misi ke-21 yang diluncurkan dari Amerika Serikat ke Mars sejak Mariner pada 1960an.

Perjalanan ke Mars lainnya banyak diluncurkan dari negara lain.

Baca juga: Robot riset NASA pertama akan pelajari bagian dalam Mars

Baca juga: Roket raksasa Falcon Heavy “berhidung” Tesla meluncur menuju Mars

Baca juga: Peneliti Israel selesaikan simulasi hidup di Mars

Penerjemah: Natisha Andarningtyas
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Penambahan Kabel bawah Laut Kelistrikan Tiga Gili

Penambahan Kabel bawah Laut Kelistrikan Tiga Gili

Sejumlah petugas menarik kabel bawah laut sistem kelistrikan destinasi wisataTiga Gili (Gili Trawangan, Meno dan Air) di perairan Gili Trawangan, Desa Gili Indah, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Selasa (27/11/18). Penambahan kabel bawah laut tersebut dilakukan PLN untuk antisipasi pertumbuhan beban listrik di Kawasan Tiga Gili yang selalu meningkat dari tahun ke tahun dimana pada tahun 2014 beban listrik di Kawasan Tiga Gili baru mencapai 2 Megawatt (MW), namun meningkat menjadi, 4,2 MW pada tahun 2016 dan 4,6 MW pada tahun 2017 dan pada pertengahan tahun 2018 beban meningkat menjadi 5 MW.ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/hp.

Bagaimana neurosains berperan dalam pilpres

Jakarta (ANTARA News)  – Masyarakat sebagai pemilih dalam kontestasi pemilihan presiden yang sudah lalu atau yang akan datang bisa jadi tidak menyadari bahwa dirinya telah diarahkan untuk memilih kandidat tertentu dengan cara sains bekerja.

Sains yang tidak memihak, bebas nilai, adalah ilmu yang memberikan kepastian bagaimana cara sesuatu bekerja. Termasuk pada bermacam sistem kerja otak manusia yang sangat bisa diperhitungkan lewat ilmu pengetahuan.

Neurosains adalah bidang ilmu yang mempelajari sistem saraf yang ada di otak manusia. Dengan meneliti dan mempelajari berbagai macam sistem yang ada di otak itu pula, perilaku seseorang atau bahkan perilaku masyarakat dapat dimanipulasi.

Ahli neurologi yang juga ilmuwan neurosains dr Roslan Yuni Hasan atau yang akrab disebut Ryu Hasan menyebut pemilihan presiden Amerika Serikat pada 2016 adalah contoh pemanfaatan neurosains yang sukses diterapkan pada warga Amerika Serikat.

Donald Trump yang saat itu memenangkan pemilihan presiden melawan Hillary Clinton menggunakan jasa neuroscientist untuk memetakan sifat orang Amerika dan memanipulasinya dengan ilmu saraf agar bisa memilihnya pada pemilu.

Trump menggunakan sains dalam berkompetisi. Mulai dari mengambil sampel masyarakat dari tiap negara bagian, menelitinya hingga level kromosom, sampai memindai respon seseorang dari suatu tindakan atau informasi yang diberikan melalui perangkat MRI (magnetic resonance imaging) fungsional.

Dokter Ryu mengatakan penelitian ini hanya dilakukan dalam waktu enam minggu hingga akhirnya para neuroscientist mendapatkan “kode” dari sistem saraf otak manusia yang harus diaktifkan agar ia memilih Trump.

Ketika “kode” itu telah didapatkan, Trump tinggal membombardir publik dan media dengan pernyataan-pernyataan yang mengandung “kode” tersebut agar salah satu sistem saraf di otak sebagian masyarakat aktif dan memilihnya pada pemilihan presiden.

Namun sederhananya jika ingin melakukan manipulasi otak menggunakan neurosains secara fisik, tinggal memberikan seseorang obat kemudian orang tersebut pasti akan memilih kandidat tertentu dalam pemilihan.

Lalu bagaimana dengan strategi politik?

Strategi politik yang dilakukan oleh Trump itu pun berdasar pada ilmiah, yang bahkan berbasis klinis atau penelitian yang telah diujicobakan pada seseorang.

Dalam penelitian yang dikerjakan oleh para ilmuwan neurosains itu ditemukan bahwa pesan yang berisi ancaman lebih efektif dalam memengaruhi seseorang ketimbang pesan yang berisi harapan atau janji-janji manis.

Contoh sederhananya yang sering ditemui di kehidupan sehari-hari adalah pesan hoaks atau kabar bohong yang beredar di media sosial dan aplikasi pesan singkat. 

Orang lebih banyak dan lebih mudah merespon dengan membagikan ulang pesan yang berisi ancaman atau untuk mencegah ancaman kepada orang lain ketimbang menanggapi pesan yang isinya solusi.

Hal lainnya yang paling digemari kebanyakan orang ialah irelevansi. Sesuatu yang tidak relevan lebih menarik perhatian manusia ketimbang hal-hal relevan.

Pohon mangga berbuah mengkudu di Probolinggo banyak menarik perhatian masyarakat dan beritanya banyak dilihat. Sinetron yang oleh sebagian orang dianggap tidak bermutu karena sangat tidak relevan dengan kehidupan nyata buktinya memiliki banyak penonton dengan rating tinggi.

Jadi selain berbicara hal yang berisi ancaman, berbicara hal-hal tidak relevan seperti membandingkan tempe dengan kartu ATM pasti akan lebih banyak mendapat perhatian publik.

Seperti Trump yang pernah mengatakan dirinya bisa menembak seseorang di Fifth Avenue New York dan tidak akan kehilangan pemilih, atau Trump yang memboikot media CNN sehingga banyak diberitakan oleh media.

Itulah yang sebenarnya diinginkan dan memang sudah direncanakan. Agar Trump mendapatkan popularitas di media karena sikap kontroversialnya. Walaupun popularitas itu negatif, dia tetap makin dikenal.

Kubu Hillary Clinton pada saat itu sangat percaya diri yang beranggapan seseorang seperti Trump dengan ucapan-ucapan anehnya tidak mungkin dipilih. Namun nyatanya, Trump tetap menang berkat ilmu pengetahuan.

Neurosains ini pula yang ditiru oleh Presiden Brasil terpilih Jair Bolsonaro yang memenangkan kompetisi pemilihan presiden pada 28 Oktober lalu. Bolsonaro juga kerap melontarkan ucapan kontroversial yang melecehkan perempuan, rasis pada kaum afro, menolak PBB karena dianggap komunis, bahkan terang-terangan mengatakan dirinya pro kekerasan.

Dan hasilnya, Bolsonaro berhasil mencicipi kemenangan seperti Trump. Kendati pun empat bulan sebelum pemilihan orang-orang Brasil mengelak bahwa neurosains tidak akan berlaku di negaranya karena warga Amerika berbeda dengan Brasil.

Kenapa bisa sama?

Yang membuat sistem neurosains ini sukses di Amerika dan Brasil ialah kesamaan masyarakat yang begitu religius. “Yang satu Katolik banget, yang satu Evangelis banget. Sama dengan di Indonesia, Islam banget,” kata Ryu.

Masyarakat yang religius, kata Ryu, merupakan kalangan masyarakat yang paling mudah dimanipulasi dengan menggunakan neuorosains.

Apa sebabnya? Ialah karena masyarakat religius sangat percaya pada konsep reward and punishment. Walau entah imbalan dan hukuman itu benar-benar ada atau tidak, tetapi masyarakat religius sangat mempercayai konsepnya.

Selain itu religiusitas sendiri memperkuat ikatan kelompok. Ikatan itu jauh lebih kuat dadipada masyarakat yang tidak religius. “Ketika pemimpinnya bilang A, ikut semua,” kata dia.

Neurosains ini juga sudah banyak digunakan oleh perusahaan dalam dunia periklanan untuk memasarkan produk. Orang secara sadar ataupun tidak diarahkan untuk membeli suatu produk lewat informasi yang terus menerus dipaparkan.

Ryu tidak bisa membuktikan apakah kontestasi politik di Indonesia, salah satu pasangan capres-cawapres menggunakan neurosains karena harus dibuktikan melalui penelitian.

Namun yang pasti religiusitas masyarakat Indonesia sama persis dengan warga Amerika dan Brasil. Ryu juga melihat pola-pola yang muncul saat ini di Indonesia ada kecenderungan seperti yang dilakukan oleh Trump dan Bolsonaro.

Ada narasi kampanye yang berisikan ancaman, irelevansi, popularitas negatif dengan kebodohan dan kebohongan yang banyak dibicarakan di media sosial maupun media massa. Yang secara tidak sadar juga, masyarakat yang terus membicarakannya tengah membangun popularitas salah satu pasangan calon kandidat dan akan termanipulasi untuk memilihnya.

Lalu jika sebegitu hebatnya neurosains, bukankah lebih bijak menggunakan ilmu pengetahuan itu untuk pembangunan manusia Indonesia yang lebih berkualitas lewat manipulasi sistem otak?

Tentu sangat mungkin. Dokter Ryu Hasan menjelaskan neurosains ini akan efektif diberikan dalam bentuk pelatihan untuk individu, sementara untuk secara kolektif dan jangka panjang harus melalui sistem pendidikan.

Untuk mengubah kultur masyarakat Indonesia menjadi lebih disiplin, lebih tertib, inovatif dan sebagainya memerlukan sistem dan pendidikan yang harus secara ketat dijalankan. Sehingga nantinya kultur buruk masyarakat akan luntur menjadi sistem, dan sistem itu sendiri yang akan menjadi kultur masyarakat.

Akan tetapi untuk mengubah atau meningkatkan kualitas manusia Indonesia menjadi lebih baik tetap membutuhkan waktu yang tidak singkat.

“Kalau kita bicara mengubah kultur masyarakat, jangan terburu-buru, kita bicara tentang  dua generasi,” kata dia. 

Baca juga: Pakar melihat salah satu capres-cawapres di Indonesia gunakan pola Trump dan Bolsonaro
 

Pewarta:
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Detik-detik pendaratan Insight di Mars

Jakarta (ANTARA News) – National Aeronautics and Space Administration atau NASA berhasil mendaratkan pesawat antariksa ke-delapan mereka dalam misi Mars, InSight menjejak di planet tersebut hanya dalam tujuh menit, dijuluki “seven minutes of terror”.

Setelah enam bulan setengah menjelajah angkasa, InSight mencapai lapisan atas atmosfer Mars sekitar pukul 15.00 waktu Amerika Serikat, misi mereka selama dua tahun ke depan di Mars resmi dimulai.

Dikutip dari laman The Verge, pendaratan di Mars ini cukup rumit, InSight harus menurunkan kecepatan yang tadinya 12.000 mil per jam menjadi hanya 5 mil per jam sebelum menyentuh permukaan planet. InSight secara otomatis melepas parasut supersonik agar mampu mendarat aman, juga mengumpulkan data radar dan menyalakan pendorong, semua harus dalam waktu yang tepat.

Selama pendaratan, dua satelit bernama MarCO  di atas Mars mengumpulkan data dari seluruh kejadian. Satelit ini juga diluncurkan bersama InSight dari California pada Mei lalu.

Satelit MarCO terbang di di atas Mars selama InSight bersiap mendarat, berjarak sekitar 2.175 mil dari permukaan. InSight mengirim sinyal ke MarCO, satelit tersebut memproses, membuka kode kemudian mengirimnya ke bumi. 

Berkat MarCO, insinyur NASA di bumi bisa mendapatkan informasi secara aktual mengenai pendaratan di Mars.

Beigitu InSight menyentuh permukaan, ia mengirim sinyal pertama ke bumi untuk mengabarkan mereka mendarat selamat. Tujuh menit kemudian, pesawat menggunakan radio berdaya besar untuk mengirim sinyal, kemudian memberi peringatan dan akhirnya mengirim ke NASA secara terperinci status mereka.

Beberapa menit kemudian, InSight mengirimkan gambar pertama dari permukaan Mas, berupa gambar daratan tempat mereka tiba.

Bukan hanya MarCO yang bekerja saat InSight mendarat di Mars, ada juga Mars Reconnaissance Orbiter yang mengelilingi Mars dan mengirimkan peristiwa pendaratan ke bumi dalam tiga jam. 

InSight juga membuka panel surya mereka selama di mars. Pesawat Odyssey, yang sudah lebih dulu mengorbit Mars, akan terbang di atas InSight untuk mengumpulkan informasi dan memberikannya ke NASA dalam 5,5 jam.

Selama di Mars, InSight akan tetap diam agar dapat mendeteksi setiap getaran di planet tersebut selama Marsquakes, menggunakan gelombang suara untuk mengetahui interor planet itu.

Selama dua hingga tiga bulan ke depan, InSight menggunakan lengan robotik untuk menaruh dua instrumen utama dalam penelitian ini, yaitu seismometer dan paku otonom (self-hammering nail).

Seismometer akan mendeteksi getaran, sementara paku akan mengebor permukaan dengan kedalaman 16 kaki untuk mengukur suhu.
 

Penerjemah: Natisha Andarningtyas
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Pemanfaatan Air Hujan

Anggota dari Komunitas Banyu Bening mengambil air hujan yang siap dikonsumsi setelah melalui proses elektrolisa saat acara Kongres Air Hujan Indonesia I di Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, DI Yogyakarta, Selasa (27/11/2018). Acara yang diikuti oleh berbagai elemen masyarakat itu menjadi wadah untuk komunikasi serta kerjasama dalam pengembangan teknologi dan implementasi pemanen/pemanfaatan air hujan guna pencapaian potensi air bersih masa depan. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/wsj.

Laboratorium kopi petani batang

(Antara)-Seorang petani di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dua tahun lalu membuat laboratorium kopi penguji rasa. Laboratorium yang berada di tengah Kampung Kecamatan Tersono ini, menfasilitasi 2.500 petani kopi lokal dan masyarakat umum untuk mengetahui proses menyeduh, kandungan rasa dan membuat kopi dengan harapan bisa meningkatkan ilmu kopi petani.